Kukira, kepergian selalu tentang kembali. Tapi ternyata tidak untukmu. Bagimu, pergi adalah pergi. Untuk apa pulang pada satu tempat yang telah menyakiti hati, menemui luka-luka itu kembali, menunggu kepergian yang mungkin akan menyisakan perih lagi. Kau benar. Pergi harusnya tetap menjadi pergi. Aku bahkan bukan rumah yang ingin kau tempati. Hanya sebatas ruang tak berpenghuni yang berusaha menarik perhatianmu agar kau singgah mengistirahatkan diri. Aku tak pernah menjadi frasa 'pulang' di pikiranmu. Aku bukanlah apa yang ingin kau tinggali, hanya seseorang yang kau sesali dalam ucapan, "kenapa tak sedari dulu kutinggal pergi?". Setelah kalimat "Aku harus pergi, kita telai usai" yang menjadi penutup kisah kau dan aku, kupikir kau akan ragu untuk melangkahkan kakimu. Kukira kau akan memarahiku dan memilih untuk tetap di sisiku, seperti yang kau lakukan dulu saat aku mengucap kalimat bodoh itu. Tetapi, mungkin sudah terlalu melelahkan...
Aku sudah menemukan kembali Pangeranku. Doakan saja agar tak hilang lagi.