Langsung ke konten utama

Setelah kalimat "Aku Harus Pergi"

Kukira, kepergian selalu tentang kembali. 

Tapi ternyata tidak untukmu. Bagimu, pergi adalah pergi. Untuk apa pulang pada satu tempat yang telah menyakiti hati, menemui luka-luka itu kembali, menunggu kepergian yang mungkin akan menyisakan perih lagi. 

Kau benar.

Pergi harusnya tetap menjadi pergi. Aku bahkan bukan rumah yang ingin kau tempati. Hanya sebatas ruang tak berpenghuni yang berusaha menarik perhatianmu agar kau singgah mengistirahatkan diri. Aku tak pernah menjadi frasa 'pulang' di pikiranmu. Aku bukanlah apa yang ingin kau tinggali, hanya seseorang yang kau sesali dalam ucapan, "kenapa tak sedari dulu kutinggal pergi?".

Setelah kalimat "Aku harus pergi, kita telai usai" yang menjadi penutup kisah kau dan aku, kupikir kau akan ragu untuk melangkahkan kakimu. Kukira kau akan memarahiku dan memilih untuk tetap di sisiku, seperti yang kau lakukan dulu saat aku mengucap kalimat bodoh itu. 

Tetapi, mungkin sudah terlalu melelahkan bagimu.

Alih-alih menahanku, kau justru tertawa dan berteriak, "Terima kasih telah membukakan pintu, aku sudah lama menunggu itu". Ya, bisa jadi selama ini kau hanya merasa terkekang dengan sikapku dan tak bisa berbuat apa-apa. Aku tahu itu, aku mengerti. Aku memang selalu membuatmu tak nyaman untuk melakukan sesuatu yang kau inginkan.

Aku sadar, aku tak bisa menjadi rumah yang hangat untuk memeluk dinginmu. Aku tak mampu menjadi ruang bahagia untuk mengusir segala sedihmu. Tak ada dariku, yang bisa kau jadikan sebagai alasan 'mengapa harus bertahan'.

Jadi, pergilah. 
Aku tak akan memintamu kembali kali ini. Sudah cukup untuk aku menunggu. Aku yang tak pernah bisa menjadi apa yang kau butuhkan, akan kujadikan sebagai alasan mengapa aku harus berhenti berharap kau akan ada di sini lagi. 

Pergilah! Temukan bahagia itu. Aku akan menerima, bahwa setelah kalimat "Aku harus pergi" akan sia-sia untuk kalimat "Aku akan menunggumu kembali". 


Komentar

  1. Sudah .Jika memang harus pergi,ikhlaskan. Toh masih banyak orang yg menunggumu. Percaya. Bukan hanya kamu yg merasakan seperti ini, akupun sama . Sedih? Susah? Memang .Tapi itulah yg harus kamu lalui. Semangat

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Kecil untuk Tuhan

Tuhan... Anak lelaki di hadapanku ini tersenyum dalam tidurnya, bahkan saat dunianya sedang hancur-hancurnya. Bagaimana bisa kau ciptakan hati yang terlihat kuat tapi nyatanya sangat rapuh itu, pada seorang anak lelaki yang seharusnya tertawa di luar sana dan merasa lelah karena terlalu banyak menghabiskan waktu namun nyatanya hanya menatap dirinya sendiri di ruang hampa tanpa siapapun di sampingnya. Berbicara pada diri sendiri, menyalahkan diri sendiri dan berandai-andai agar hidupnya seperti anak lelaki yang lain.  Tuhan... Tidakkah kau lihat hamba kecil-Mu itu sudah lelah? Ia tampak ingin menyerah meski yang orang lain lihat hanyalah kesombongan dalam dirinya. Padahal dia yang sesungguhnya terlihat di sorot matanya, kosong dan gelap.  Tuhan... Jika kedua tangan kekar itu tak cukup untuk bisa Engkau kabulkan doanya, akan kuberikan dengan sangat rela kedua tangan kecilku ini untuk mengaminkan seluruh harap atas keputusasaannya. Apakah masih kurang cukup bagi-Mu untuk membukak...

Tentang Waktu, Kawan dan Kepergian.

Aku pernah memiliki segalanya dan merasa bangga. Hingga waktu mengambil semua dan yang tersisa hanya kekecewaan. Mereka pernah beramai-ramai hadir dalam hidupku, sampai tiba saatnya mereka pergi begitu saja. Tanpa pesan, atau bahkan kalimat singkat saja pun tak ada. Dan yang tersisa cuma; kesendirian. Hampa yang kurasa saat mereka memilih berlalu. Sepi, kosong dan sendiri ketika mereka memilih untuk tiada. Ingin berteriak, ingin memaki, tapi aku juga tak tahu harus kepada siapa dan harus menyalahkan siapa. Pernah ada saat aku butuh sekali lengan-lengan untuk menarikku bangkit dari keterpurukan, namun tak ada yang bersedia. Jika boleh marah, jika boleh mengingat-ingat lagi. Aku tak pernah tega membiarkan siapapun di sampingku merasa sedih, terpuruk dan merasa buruk ketika dunia menjatuhkan mereka. Namun saat aku yang jatuh tersuruk, mereka malah berjalan semakin menjauhi. Mereka ada, tapi memilih untuk tak ingin ada di saat aku sedang kacau-kacaunya. Sedang di saat duniaku bai...

Aku Tidak Pernah Baik-Baik Saja

Aku tidak pernah baik-baik saja, kecuali ketika bertemu dengan keluarga dan beberapa orang yang memang sangat ingin kutemui. Belakangan ini, sejak tahun lalu, aku mengalami demotivasi. Aku malas melakukan rutinitas seperti biasa kecuali yang sifatnya memang harus kulakukan. Bahkan, untuk makan saja sangat berat rasanya.  Aku menghabiskan uangku untuk hal yang ga berguna bukan karna aku boros, tapi karna untuk saat itu, benda itu akan membuat moodku menjadi lebih baik.  Aku mendahulukan kebahagiaan orang lain, bukan karna aku bodoh tak memikirkan diriku sendiri. tapi aku juga tidak tau apa yang bisa membuatku bahagia.  Aku membeli makanan mahal bukan karna aku sombong karna punya banyak uang. Tapi tak ada hal lain yang ingin aku makan kecuali makanan yang benar-benar ingin aku makan.  Aku tertawa di depan semua orang, membercandakan hal-hal yang tidak perlu, berbicara terus-menerus seolah-olah aku adalah orang paling ceria. Tapi, kenyataan yang orang lain tidak tau ad...