Langsung ke konten utama

Postingan

Surat Kecil untuk Tuhan

Tuhan... Anak lelaki di hadapanku ini tersenyum dalam tidurnya, bahkan saat dunianya sedang hancur-hancurnya. Bagaimana bisa kau ciptakan hati yang terlihat kuat tapi nyatanya sangat rapuh itu, pada seorang anak lelaki yang seharusnya tertawa di luar sana dan merasa lelah karena terlalu banyak menghabiskan waktu namun nyatanya hanya menatap dirinya sendiri di ruang hampa tanpa siapapun di sampingnya. Berbicara pada diri sendiri, menyalahkan diri sendiri dan berandai-andai agar hidupnya seperti anak lelaki yang lain.  Tuhan... Tidakkah kau lihat hamba kecil-Mu itu sudah lelah? Ia tampak ingin menyerah meski yang orang lain lihat hanyalah kesombongan dalam dirinya. Padahal dia yang sesungguhnya terlihat di sorot matanya, kosong dan gelap.  Tuhan... Jika kedua tangan kekar itu tak cukup untuk bisa Engkau kabulkan doanya, akan kuberikan dengan sangat rela kedua tangan kecilku ini untuk mengaminkan seluruh harap atas keputusasaannya. Apakah masih kurang cukup bagi-Mu untuk membukak...
Postingan terbaru

Pesan Untuk Diri Sendiri

Teruntuk diri sendiri ... Ada kalanya kita memang akan merasa sesedih itu. Menangis sepanjang malam, sendirian, dan kesepian. Sesak, ya? Tapi tenang aja, hidup ini berputar kok. Kemarin mungkin kita terlalu bahagia dan bersemangat, mungkin kemarin kita lupa bersyukur sampai akhirnya kita ga sadar putaran hidup kita telah sampai pada titik paling rendah lagi.  Gapapa.  Gapapa.  Gapapa.  Biarkan diri menangis sampai lelah, sampai mata ini terpejam, dan sampai sembuh rasa perih di hati ini.  Dia, tak harus selalu ada. Dia tak harus selalu menemani. Kalau kita memang rumah untuknya, dia akan kembali tepat sebelum hari menggelap. Atau mungkin bisa saja sedikit terlambat. Atau bisa saja ia memang tak kembali karna suatu alasan.  Ingatlah, setiap orang akan bertahan sementara saja. Sementara bisa berarti hitungan detik, menit, jam atau bahkan tahun. Jatah 'sementara' setiap orang selalu berbeda-beda, tidak ada yang tau. Tidak ada yang tau berapa lama ia ada di sis...

Aku Tidak Pernah Baik-Baik Saja

Aku tidak pernah baik-baik saja, kecuali ketika bertemu dengan keluarga dan beberapa orang yang memang sangat ingin kutemui. Belakangan ini, sejak tahun lalu, aku mengalami demotivasi. Aku malas melakukan rutinitas seperti biasa kecuali yang sifatnya memang harus kulakukan. Bahkan, untuk makan saja sangat berat rasanya.  Aku menghabiskan uangku untuk hal yang ga berguna bukan karna aku boros, tapi karna untuk saat itu, benda itu akan membuat moodku menjadi lebih baik.  Aku mendahulukan kebahagiaan orang lain, bukan karna aku bodoh tak memikirkan diriku sendiri. tapi aku juga tidak tau apa yang bisa membuatku bahagia.  Aku membeli makanan mahal bukan karna aku sombong karna punya banyak uang. Tapi tak ada hal lain yang ingin aku makan kecuali makanan yang benar-benar ingin aku makan.  Aku tertawa di depan semua orang, membercandakan hal-hal yang tidak perlu, berbicara terus-menerus seolah-olah aku adalah orang paling ceria. Tapi, kenyataan yang orang lain tidak tau ad...

Ruang Waktu

Ada kalanya aku sangat membenci waktu, jarak, kemudian membenci diriku sendiri. Tak ada yang salah, tak ada yang berbeda dari laju waktu. Segalanya masih sama, terasa lebih cepat ketika kita bahagia dan terasa lambat saat sedang sedih-sedihnya. Aku merasa tak lagi punya banyak waktu. Waktu terus berjalan, namun langkah kita seolah berhenti pada satu pijakan. Aku merasa terkurung dalam satu ruang, sedangkan kau berkeliaran kesana-kemari mencari sebuah ruang. Kita tak bertemu, kita berjarak, kita kesepian. "Semua ini bagian dari perjalanan hidup.", katamu. Bagaimana semua ini bisa disebut perjalanan kalau aku saja merasa sedang diam di tempat. Aku berlari secepat mungkin hingga kakiku lelah, tapi aku masih di sini. Dengan sesak di dada yang terasa menyekik jantung, aku menyadari tak ada yang berubah, tak ada yang akan berubah. Tak bisa kemana-mana dan akan terus ada di sini, tanpamu. Aku mencoba untuk tetap terlihat tidak ada hal menyedihkan terjadi. Mendengarkan cerita-...

Setelah kalimat "Aku Harus Pergi"

Kukira, kepergian selalu tentang kembali.  Tapi ternyata tidak untukmu. Bagimu, pergi adalah pergi. Untuk apa pulang pada satu tempat yang telah menyakiti hati, menemui luka-luka itu kembali, menunggu kepergian yang mungkin akan menyisakan perih lagi.  Kau benar. Pergi harusnya tetap menjadi pergi. Aku bahkan bukan rumah yang ingin kau tempati. Hanya sebatas ruang tak berpenghuni yang berusaha menarik perhatianmu agar kau singgah mengistirahatkan diri. Aku tak pernah menjadi frasa 'pulang' di pikiranmu. Aku bukanlah apa yang ingin kau tinggali, hanya seseorang yang kau sesali dalam ucapan, "kenapa tak sedari dulu kutinggal pergi?". Setelah kalimat "Aku harus pergi, kita telai usai" yang menjadi penutup kisah kau dan aku, kupikir kau akan ragu untuk melangkahkan kakimu. Kukira kau akan memarahiku dan memilih untuk tetap di sisiku, seperti yang kau lakukan dulu saat aku mengucap kalimat bodoh itu.  Tetapi, mungkin sudah terlalu melelahkan...

Terpaksa Tuntas

Dicintaimu aku tak pernah benar-benar merasa ada. Setiap kata cinta yang kau ucap kupikir hanya sebuah kalimat untuk sekadar menganggap aku ada. Aku tak pernah merasa seberarti itu di matamu. Tatapanmu kosong saat berhadapan denganku dan tawamu tak pernah tulus saat bersamaku. Aku seringkali menceritakan tentangmu ke teman-temanku. Sebuah kebanggaan ketika aku merasa beruntung memilikimu. Namun pernah suatu saat langkahku tiba-tiba terhenti dan perbincangan tentangmu juga kuhentikan. Kau tau kenapa? Temanku bertanya, "lalu mengapa kalian menjadi seperti sekarang?" aku terdiam, saat itu juga aku menyadari satu hal. Hanya aku yang mencintaimu dan kau tidak. Kita hanya sebatas kata hampir, persis seperti cerita dalam buku yang baru kubaca beberapa waktu lalu. Selama ini kau hanya berusaha mencintaiku, berusaha membahagiakan aku, berusaha menyembunyikan perasaanmu yang sebenarnya. Kukira kau sesayang itu, tapi nyatanya sedikitpun tak ada rasa itu yang sampai. Aku buta,...

Pengingat Kecil untuk Hati Yang Telah Pergi

Aku pernah berjanji bahwa apapun keadaannya, kau tak akan pernah terganti. Tak akan pernah kuusir dari hati. Dan sepertinya, Tuhan mengijinkan aku menjaga janji-janji bersetia itu dengan tak menjatuhkan hatiku pada siapapun selain kamu. Kau selalu punya cara yang sederhana untuk bisa membuatku jatuh dan mencinta. Sedangkan aku, sampai detik ini masih tak kunjung kutemukan cara agar hatimu mampu kumiliki. Yang bisa kulakukan hanyalah menunggu doa-doaku membawa datangmu, dan resah selalu hadir sebagai pengganggu tenangku. Mungkin, nanti kau juga akan rindu. Lalu mengingat bahwa pernah setega itu aku kau abaikan. Dan ketika saat itu tiba, satu impianku terwujud; kau menyadari apa yang telah kau lewatkan dan usahaku menjadi tak lagi sia-sia. Biarpun hanya sebatas kau sadari. Dan itupun hanyalah kemungkinan dalam angan-anganku saja. Tapi, coba kau ingat ini!. Walau aku kini bukan lagi perempuanmu; yang kau cintai ketiga setelah Ibu dan Adik perempuanmu yang cantik, kau tetapla...