Tuhan... Anak lelaki di hadapanku ini tersenyum dalam tidurnya, bahkan saat dunianya sedang hancur-hancurnya. Bagaimana bisa kau ciptakan hati yang terlihat kuat tapi nyatanya sangat rapuh itu, pada seorang anak lelaki yang seharusnya tertawa di luar sana dan merasa lelah karena terlalu banyak menghabiskan waktu namun nyatanya hanya menatap dirinya sendiri di ruang hampa tanpa siapapun di sampingnya. Berbicara pada diri sendiri, menyalahkan diri sendiri dan berandai-andai agar hidupnya seperti anak lelaki yang lain. Tuhan... Tidakkah kau lihat hamba kecil-Mu itu sudah lelah? Ia tampak ingin menyerah meski yang orang lain lihat hanyalah kesombongan dalam dirinya. Padahal dia yang sesungguhnya terlihat di sorot matanya, kosong dan gelap. Tuhan... Jika kedua tangan kekar itu tak cukup untuk bisa Engkau kabulkan doanya, akan kuberikan dengan sangat rela kedua tangan kecilku ini untuk mengaminkan seluruh harap atas keputusasaannya. Apakah masih kurang cukup bagi-Mu untuk membukak...
Teruntuk diri sendiri ... Ada kalanya kita memang akan merasa sesedih itu. Menangis sepanjang malam, sendirian, dan kesepian. Sesak, ya? Tapi tenang aja, hidup ini berputar kok. Kemarin mungkin kita terlalu bahagia dan bersemangat, mungkin kemarin kita lupa bersyukur sampai akhirnya kita ga sadar putaran hidup kita telah sampai pada titik paling rendah lagi. Gapapa. Gapapa. Gapapa. Biarkan diri menangis sampai lelah, sampai mata ini terpejam, dan sampai sembuh rasa perih di hati ini. Dia, tak harus selalu ada. Dia tak harus selalu menemani. Kalau kita memang rumah untuknya, dia akan kembali tepat sebelum hari menggelap. Atau mungkin bisa saja sedikit terlambat. Atau bisa saja ia memang tak kembali karna suatu alasan. Ingatlah, setiap orang akan bertahan sementara saja. Sementara bisa berarti hitungan detik, menit, jam atau bahkan tahun. Jatah 'sementara' setiap orang selalu berbeda-beda, tidak ada yang tau. Tidak ada yang tau berapa lama ia ada di sis...