Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Terpaksa Tuntas

Dicintaimu aku tak pernah benar-benar merasa ada. Setiap kata cinta yang kau ucap kupikir hanya sebuah kalimat untuk sekadar menganggap aku ada. Aku tak pernah merasa seberarti itu di matamu. Tatapanmu kosong saat berhadapan denganku dan tawamu tak pernah tulus saat bersamaku. Aku seringkali menceritakan tentangmu ke teman-temanku. Sebuah kebanggaan ketika aku merasa beruntung memilikimu. Namun pernah suatu saat langkahku tiba-tiba terhenti dan perbincangan tentangmu juga kuhentikan. Kau tau kenapa? Temanku bertanya, "lalu mengapa kalian menjadi seperti sekarang?" aku terdiam, saat itu juga aku menyadari satu hal. Hanya aku yang mencintaimu dan kau tidak. Kita hanya sebatas kata hampir, persis seperti cerita dalam buku yang baru kubaca beberapa waktu lalu. Selama ini kau hanya berusaha mencintaiku, berusaha membahagiakan aku, berusaha menyembunyikan perasaanmu yang sebenarnya. Kukira kau sesayang itu, tapi nyatanya sedikitpun tak ada rasa itu yang sampai. Aku buta,...

Pengingat Kecil untuk Hati Yang Telah Pergi

Aku pernah berjanji bahwa apapun keadaannya, kau tak akan pernah terganti. Tak akan pernah kuusir dari hati. Dan sepertinya, Tuhan mengijinkan aku menjaga janji-janji bersetia itu dengan tak menjatuhkan hatiku pada siapapun selain kamu. Kau selalu punya cara yang sederhana untuk bisa membuatku jatuh dan mencinta. Sedangkan aku, sampai detik ini masih tak kunjung kutemukan cara agar hatimu mampu kumiliki. Yang bisa kulakukan hanyalah menunggu doa-doaku membawa datangmu, dan resah selalu hadir sebagai pengganggu tenangku. Mungkin, nanti kau juga akan rindu. Lalu mengingat bahwa pernah setega itu aku kau abaikan. Dan ketika saat itu tiba, satu impianku terwujud; kau menyadari apa yang telah kau lewatkan dan usahaku menjadi tak lagi sia-sia. Biarpun hanya sebatas kau sadari. Dan itupun hanyalah kemungkinan dalam angan-anganku saja. Tapi, coba kau ingat ini!. Walau aku kini bukan lagi perempuanmu; yang kau cintai ketiga setelah Ibu dan Adik perempuanmu yang cantik, kau tetapla...

Kau Bisa

Teruntuk seseorang yang sedang menunduk resah tak percaya diri... Hey, apa yang membuatmu tak yakin dengan dirimu sendiri? Apa yang merasuki pikiranmu hingga kau berpikir bahwa kau akan gagal lagi meski sudah mencoba? Kau tau? Ada segelintir orang yang menyebutmu pengecut. Tapi menurutku, kau adalah lelaki hebat. Kau hanya takut pada ketidakbisaanmu pada sesuatu yang aku yakin kalau kau bisa. Hanya saja kau selalu mengkhawatirkan ketidakmampuanmu terhadap sesuatu yang sama sekali belum kau coba lakukan. Berhenti mengeluh kalau kau tak bisa, karna aku percaya kau mampu melakukannya. Berhenti menunduk, angkat kepalamu. Kegagalan yang menghampirimu di hari lalu tak semestinya membuat keyakinanmu memudar. Sebab dunia ini memang sangat pandai menjatuhkan dan menghancurkan harapan-harapan manusia. Maka kau harus pintar untuk bangkit lagi dan menyusun kembali kepingan impian yang begitu ingin kau gapai. "Bagaimana ingin melangkah, merangkak saja aku masih harus belajar", katamu....

Tentang Waktu, Kawan dan Kepergian.

Aku pernah memiliki segalanya dan merasa bangga. Hingga waktu mengambil semua dan yang tersisa hanya kekecewaan. Mereka pernah beramai-ramai hadir dalam hidupku, sampai tiba saatnya mereka pergi begitu saja. Tanpa pesan, atau bahkan kalimat singkat saja pun tak ada. Dan yang tersisa cuma; kesendirian. Hampa yang kurasa saat mereka memilih berlalu. Sepi, kosong dan sendiri ketika mereka memilih untuk tiada. Ingin berteriak, ingin memaki, tapi aku juga tak tahu harus kepada siapa dan harus menyalahkan siapa. Pernah ada saat aku butuh sekali lengan-lengan untuk menarikku bangkit dari keterpurukan, namun tak ada yang bersedia. Jika boleh marah, jika boleh mengingat-ingat lagi. Aku tak pernah tega membiarkan siapapun di sampingku merasa sedih, terpuruk dan merasa buruk ketika dunia menjatuhkan mereka. Namun saat aku yang jatuh tersuruk, mereka malah berjalan semakin menjauhi. Mereka ada, tapi memilih untuk tak ingin ada di saat aku sedang kacau-kacaunya. Sedang di saat duniaku bai...

Jangan Berpura-pura Lagi !

Untuk perempuan yang sedang dipatahkan hatinya. Aku tahu kalau kau butuh peluk untuk sedih-sedihmu, namun tak ada sepasang lengan yang bersedia untuk itu. Mungkin kau perlu belajar memeluk diri sendiri. Sebab selain si pematah, hanya kau yang mampu memulihkan kepatahan dalam dirimu. Kau tak perlu menunggu siapapun memberikan lengannya untuk menenangkanmu, karena segala resah dan lelahmu cuma bagian dari dirimulah yang memahaminya. Kau berpura-pura tersenyum di hadapan dunia, lalu menangis di balik bantal tidurmu saat malam datang. Percayalah bahwa tak perlu semenyedihkan itu. Kau harus tersenyum agar luka-lukamu membaik. Kepura-puraan itu justru akan menambah rasa sesak dalam dadamu. Sebuah usaha menipu dunia hanya akan menambah beban dan lelahmu. Hingga akhirnya bukan sembuh yang kau dapat, hanya sebuah kesia-siaan. Daripada harus terus-menerus hidup dalam kepura-puraan, mungkin kau perlu menyediakan satu hari dimana kau harus menangisi kesedihanmu. Habiskan saja air matamu...

Yang Tak Mampu Tersampaikan

Selepas hari menyedihkan itu, aku menyesal. Aku menyadari bahwa aku selalu membuat kesalahan di sepanjang kehidupanku, dan ketika aku dipertemukan dengan seseorang yang mampu membantuku memperbaiki semua itu menjadi benar, aku justru menyalahkannya. Aku telah menemukan satu, yang tetap memilih tinggal meski tau segala kurangku. Dan tetap memilih bertahan meski ada banyak alasan untuk pergi meninggalkan. Tapi keegoisanku membunuh sabar dan usaha bersetia itu. Sejak hari itu, aku melalui hari-hari yang sulit, tanpanya. Lelahku telah kehilangan tempat ternyaman untuk bersandar. Sedihku tak lagi punya teman bercerita dan pengusap air mata. Dan kacauku kehilangan peluknya, yang dulu selalu mampu menenangkan. Senyumku pedar, tawaku hambar. Aku terlambat menyadari bahwa dialah satu-satunya yang aku butuh untuk selalu ada di sisi. Satu-satunya yang mampu menguatkan aku dalam kondisi paling rapuh sekalipun. Aku sangat terlambat menyadari bahwa dia memang begitu berarti dalam hidupk...

Kamu Harus Ada Bersamanya

Pergimu, bukanlah sesuatu yang benar-benar diinginkan oleh seseorang yang melepaskanmu. Bisa jadi, hilangmu adalah sebuah keberanian melepaskan agar nanti menemukan kamu kembali dengan keadaan yang benar-benar layak. Saat dia mengatakan "kita sudahi saja", sebenarnya ia ingin dibujuk. Ingin dibuat percaya lagi dengan kata-katamu yang menginginkan dia untuk kuat bersabar sebentar saja menghadapi kejenuhan-kejenuhan yang datang kala itu. Namun, kepergianmu menjadi satu-satunya yang ia sesali hari itu, detik itu, dan sampai entah kapan. Hatinya, butuh diisi kamu. Dirinya, ingin ragamu ada di sisinya. Dia membutuhkanmu, sangat membutuhkanmu (lagi). Selain kamu, tak ada siapapun yang mampu  menguatkannya. Setelah kepergianmu, tak ada lagi yang bisa senyaman kamu memberikan sandaran untuk sejenak saja menenangkan kacaunya.Peluk yang ia harapkan mampu mendekapnya dan mengusir penat di hatinya, telah memilih untuk melepaskan diri. Kini tak ada lagi teman berbincang yang ...

Patah Tumbuh, Bukan Hilang Berganti

Jika patah tumbuh, hilang berganti. Maka aku ingin kisah kita kali ini adalah sebuah kepatahan, agar suatu hari nanti dapat tumbuh lagi dengan perasaan yang lebih indah. Namun aku tak ingin menganggapnya sebagai suatu kehilangan, sebab aku tak ingin kau berganti. Aku menerima kepatahan-kepatahan ini sebagai jalan menuju kita yang nantinya akan benar-benar layak disandingkan oleh Tuhan. Biarlah aku berjalan sendirian untuk saat ini, asalkan di ujung jalan nanti kutemui kamu dan kumiliki kamu lagi. Aku tak merasa kau hilang, karena bagiku kau tetap diam di tempatmu dan tak akan pernah pergi kemana-mana. Tak apa jika aku harus melangkah tanpamu kali ini, tak masalah jika hati harus patah berkali-kali. Aku percaya, takdir akan menumbuhkan lagi rasa itu hingga nanti kita akan saling menemukan dengan hati yang sudah utuh kembali. Untuk 'kamu' yang kusebut dalam tulisan ini, juga jangan pernah anggap aku hilang. Aku hanya sedang berusaha memantaskan diri biar aku saja yang meng...

A K U

Aku adalah tetes air hujan yang sengaja jatuh di pelupuk matamu lalu kau usap dengan sapu tanganmu. Mungkin karena jatuhku mengganggu pandanganmu. Aku adalah sinar matahari yang sering kau maki karena terlalu terik dan seringkali terasa menyengat kulitmu. Lalu kau percepat gerakmu agar segera menemukan tempat teduh untuk menghindari panas sebab cahayaku yang berlebihan. Aku adalah dingin malam yang begitu kau benci lalu memilih bersembunyi di balik selimut tebal yang kau anggap mampu menepis udaraku agar dingin tak merasuk hingga ke tulangmu dan kau bisa tidur dengan nyenyak dengan mendekap kehangatan. Aku ingin kau tau satu hal. Bahwa aku merasa begitu bodoh. Aku tak pernah tahu bagaimana cara mencintaimu dengan benar. Aku tak pernah mengerti tentang bagaimana agar membuatmu merasa nyaman dan damai dengan caraku. Aku selalu salah dalam menyampaikan bentuk sayangku kepadamu. Aku sengaja jatuh di pelupuk matamu agar kau menatap tetes yang lain dan melihat bahwa ada ketulusan da...

Manusia di Persimpangan

 Aku mencintai seseorang, yang tak tahu harus melangkah ke mana untuk menemukan arahnya. Bukan karna tak punya tujuan, hanya saja, ia selalu bingung. Ingin jalan terus atau berbelok. Saat ini, dia hanya terdiam, terpaku di tempatnya. Disaat manusia lain sibuk mencari pilihan, ia memenuhi pikirannya sendiri dengan berbagai pilihan yang ia ciptakan sendiri. Tujuannya sebenarnya satu, menemukan sesuatu yang sesuai dengan apa yang hatinya inginkan. Di sisi lain, hatinya masih menyimpan satu, yang tak sesuai dengan harapannya namun selalu mengganggu pikiran dan masih bersarang di relung hatinya meski berkali ia mencoba membunuh perasaan itu dan mencari penggantinya. Aku tak tau bagaimana perasaannya sekarang, tak tahu apakah masih ada si pengganggu itu di hatinya atau sudah ada seseorang yang ia inginkan menggantikan posisi itu. Tapi satu hal yang aku tau, dia tetaplah manusia di persimpangan yang tak tau harus apa, kemana, dan bagaimana.

Ada Rindu

Ada rindu, di gumpalan-gumpalan awan yang bergerak seirama arah hembusan angin. Semoga angin berhasil membawanya ke tempatmu dan menumpahkan rinduku di sana lewat hujan yang menyejukkan jiwamu. Ada rindu, pada cahaya mentari pagi yang menyilaukan matamu. Itu adalah rinduku, yang semoga berhasil menghangatkan pagimu dari dinginnya malam atau dinginnya bekas hujan semalam. Ada rindu, pada dedaunan yang menari bak melambai kepadamu karena tiupan angin. Itu adalah rinduku, yang mencoba menyapamu. Jika kau menemukannya, tersenyumlah. Ada rindu, di stasiun kereta. Semoga kau dapat merasakannya ketika kakimu berpijak di sana. Alunan bel di stasiun kereta itu, adalah nyanyian rinduku. Tersenyumlah jika kau mendengarnya. Ada rindu, di sepanjang jalan kau menuju ke kota yang sama denganku. Jika kau melihat padi yang terhampar luas, itu adalah rindu yang kutanam sejak kau pergi. Ada rindu, di setiap gemuruh di musim penghujan. Itu adalah teriakan-teriakan hatiku agar rinduku sampai kepadamu....

Kesalahpahaman

Satu-satunya yang mampu menghancurkan hubungan yang sudah terjalin begitu kuat bukanlah jarak, orang ketiga, bahkan masalah yang besar lainnya, tapi 'kesalahpahaman'. Seperti hubunganku dengan dia yang sudah terjalin hingga lebih dari dua tahun terakhir, harus berakhir hanya karna aku tak mampu mengartikan keadaan dan kesalahpahaman menghujani. Banyak hal lebih besar yang mampu aku dan dia hadapi sebelum akhirnya kami harus hancur hanya karna masalah kecil yang seringkali terasa tak terlalu penting. Bukankah kesalahpahaman begitu hebat ? ia hanya bagian dari masalah kecil namun mampu menghancurkan istana indah seperti di dongeng kesukaanku yang sudah bertahun-tahun ku bangun dengan lelaki yang begitu berharga untukku, yang begitu kuinginkan untuk tinggal bersamaku di istana megah yang kami ciptakan dengan penuh perasaan itu. Kesalahpahaman itu membuatku pergi dari sisi lelaki yang teramat kucinta, dan kesalahpahaman itu juga yang membuat lelaki itu tak lagi ingin kembali. ...