Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2018

Kamu Harus Ada Bersamanya

Pergimu, bukanlah sesuatu yang benar-benar diinginkan oleh seseorang yang melepaskanmu. Bisa jadi, hilangmu adalah sebuah keberanian melepaskan agar nanti menemukan kamu kembali dengan keadaan yang benar-benar layak. Saat dia mengatakan "kita sudahi saja", sebenarnya ia ingin dibujuk. Ingin dibuat percaya lagi dengan kata-katamu yang menginginkan dia untuk kuat bersabar sebentar saja menghadapi kejenuhan-kejenuhan yang datang kala itu. Namun, kepergianmu menjadi satu-satunya yang ia sesali hari itu, detik itu, dan sampai entah kapan. Hatinya, butuh diisi kamu. Dirinya, ingin ragamu ada di sisinya. Dia membutuhkanmu, sangat membutuhkanmu (lagi). Selain kamu, tak ada siapapun yang mampu  menguatkannya. Setelah kepergianmu, tak ada lagi yang bisa senyaman kamu memberikan sandaran untuk sejenak saja menenangkan kacaunya.Peluk yang ia harapkan mampu mendekapnya dan mengusir penat di hatinya, telah memilih untuk melepaskan diri. Kini tak ada lagi teman berbincang yang ...

Patah Tumbuh, Bukan Hilang Berganti

Jika patah tumbuh, hilang berganti. Maka aku ingin kisah kita kali ini adalah sebuah kepatahan, agar suatu hari nanti dapat tumbuh lagi dengan perasaan yang lebih indah. Namun aku tak ingin menganggapnya sebagai suatu kehilangan, sebab aku tak ingin kau berganti. Aku menerima kepatahan-kepatahan ini sebagai jalan menuju kita yang nantinya akan benar-benar layak disandingkan oleh Tuhan. Biarlah aku berjalan sendirian untuk saat ini, asalkan di ujung jalan nanti kutemui kamu dan kumiliki kamu lagi. Aku tak merasa kau hilang, karena bagiku kau tetap diam di tempatmu dan tak akan pernah pergi kemana-mana. Tak apa jika aku harus melangkah tanpamu kali ini, tak masalah jika hati harus patah berkali-kali. Aku percaya, takdir akan menumbuhkan lagi rasa itu hingga nanti kita akan saling menemukan dengan hati yang sudah utuh kembali. Untuk 'kamu' yang kusebut dalam tulisan ini, juga jangan pernah anggap aku hilang. Aku hanya sedang berusaha memantaskan diri biar aku saja yang meng...

A K U

Aku adalah tetes air hujan yang sengaja jatuh di pelupuk matamu lalu kau usap dengan sapu tanganmu. Mungkin karena jatuhku mengganggu pandanganmu. Aku adalah sinar matahari yang sering kau maki karena terlalu terik dan seringkali terasa menyengat kulitmu. Lalu kau percepat gerakmu agar segera menemukan tempat teduh untuk menghindari panas sebab cahayaku yang berlebihan. Aku adalah dingin malam yang begitu kau benci lalu memilih bersembunyi di balik selimut tebal yang kau anggap mampu menepis udaraku agar dingin tak merasuk hingga ke tulangmu dan kau bisa tidur dengan nyenyak dengan mendekap kehangatan. Aku ingin kau tau satu hal. Bahwa aku merasa begitu bodoh. Aku tak pernah tahu bagaimana cara mencintaimu dengan benar. Aku tak pernah mengerti tentang bagaimana agar membuatmu merasa nyaman dan damai dengan caraku. Aku selalu salah dalam menyampaikan bentuk sayangku kepadamu. Aku sengaja jatuh di pelupuk matamu agar kau menatap tetes yang lain dan melihat bahwa ada ketulusan da...