Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2018

Kau Bisa

Teruntuk seseorang yang sedang menunduk resah tak percaya diri... Hey, apa yang membuatmu tak yakin dengan dirimu sendiri? Apa yang merasuki pikiranmu hingga kau berpikir bahwa kau akan gagal lagi meski sudah mencoba? Kau tau? Ada segelintir orang yang menyebutmu pengecut. Tapi menurutku, kau adalah lelaki hebat. Kau hanya takut pada ketidakbisaanmu pada sesuatu yang aku yakin kalau kau bisa. Hanya saja kau selalu mengkhawatirkan ketidakmampuanmu terhadap sesuatu yang sama sekali belum kau coba lakukan. Berhenti mengeluh kalau kau tak bisa, karna aku percaya kau mampu melakukannya. Berhenti menunduk, angkat kepalamu. Kegagalan yang menghampirimu di hari lalu tak semestinya membuat keyakinanmu memudar. Sebab dunia ini memang sangat pandai menjatuhkan dan menghancurkan harapan-harapan manusia. Maka kau harus pintar untuk bangkit lagi dan menyusun kembali kepingan impian yang begitu ingin kau gapai. "Bagaimana ingin melangkah, merangkak saja aku masih harus belajar", katamu....

Tentang Waktu, Kawan dan Kepergian.

Aku pernah memiliki segalanya dan merasa bangga. Hingga waktu mengambil semua dan yang tersisa hanya kekecewaan. Mereka pernah beramai-ramai hadir dalam hidupku, sampai tiba saatnya mereka pergi begitu saja. Tanpa pesan, atau bahkan kalimat singkat saja pun tak ada. Dan yang tersisa cuma; kesendirian. Hampa yang kurasa saat mereka memilih berlalu. Sepi, kosong dan sendiri ketika mereka memilih untuk tiada. Ingin berteriak, ingin memaki, tapi aku juga tak tahu harus kepada siapa dan harus menyalahkan siapa. Pernah ada saat aku butuh sekali lengan-lengan untuk menarikku bangkit dari keterpurukan, namun tak ada yang bersedia. Jika boleh marah, jika boleh mengingat-ingat lagi. Aku tak pernah tega membiarkan siapapun di sampingku merasa sedih, terpuruk dan merasa buruk ketika dunia menjatuhkan mereka. Namun saat aku yang jatuh tersuruk, mereka malah berjalan semakin menjauhi. Mereka ada, tapi memilih untuk tak ingin ada di saat aku sedang kacau-kacaunya. Sedang di saat duniaku bai...

Jangan Berpura-pura Lagi !

Untuk perempuan yang sedang dipatahkan hatinya. Aku tahu kalau kau butuh peluk untuk sedih-sedihmu, namun tak ada sepasang lengan yang bersedia untuk itu. Mungkin kau perlu belajar memeluk diri sendiri. Sebab selain si pematah, hanya kau yang mampu memulihkan kepatahan dalam dirimu. Kau tak perlu menunggu siapapun memberikan lengannya untuk menenangkanmu, karena segala resah dan lelahmu cuma bagian dari dirimulah yang memahaminya. Kau berpura-pura tersenyum di hadapan dunia, lalu menangis di balik bantal tidurmu saat malam datang. Percayalah bahwa tak perlu semenyedihkan itu. Kau harus tersenyum agar luka-lukamu membaik. Kepura-puraan itu justru akan menambah rasa sesak dalam dadamu. Sebuah usaha menipu dunia hanya akan menambah beban dan lelahmu. Hingga akhirnya bukan sembuh yang kau dapat, hanya sebuah kesia-siaan. Daripada harus terus-menerus hidup dalam kepura-puraan, mungkin kau perlu menyediakan satu hari dimana kau harus menangisi kesedihanmu. Habiskan saja air matamu...

Yang Tak Mampu Tersampaikan

Selepas hari menyedihkan itu, aku menyesal. Aku menyadari bahwa aku selalu membuat kesalahan di sepanjang kehidupanku, dan ketika aku dipertemukan dengan seseorang yang mampu membantuku memperbaiki semua itu menjadi benar, aku justru menyalahkannya. Aku telah menemukan satu, yang tetap memilih tinggal meski tau segala kurangku. Dan tetap memilih bertahan meski ada banyak alasan untuk pergi meninggalkan. Tapi keegoisanku membunuh sabar dan usaha bersetia itu. Sejak hari itu, aku melalui hari-hari yang sulit, tanpanya. Lelahku telah kehilangan tempat ternyaman untuk bersandar. Sedihku tak lagi punya teman bercerita dan pengusap air mata. Dan kacauku kehilangan peluknya, yang dulu selalu mampu menenangkan. Senyumku pedar, tawaku hambar. Aku terlambat menyadari bahwa dialah satu-satunya yang aku butuh untuk selalu ada di sisi. Satu-satunya yang mampu menguatkan aku dalam kondisi paling rapuh sekalipun. Aku sangat terlambat menyadari bahwa dia memang begitu berarti dalam hidupk...