Tuhan... Anak lelaki di hadapanku ini tersenyum dalam tidurnya, bahkan saat dunianya sedang hancur-hancurnya. Bagaimana bisa kau ciptakan hati yang terlihat kuat tapi nyatanya sangat rapuh itu, pada seorang anak lelaki yang seharusnya tertawa di luar sana dan merasa lelah karena terlalu banyak menghabiskan waktu namun nyatanya hanya menatap dirinya sendiri di ruang hampa tanpa siapapun di sampingnya. Berbicara pada diri sendiri, menyalahkan diri sendiri dan berandai-andai agar hidupnya seperti anak lelaki yang lain. Tuhan... Tidakkah kau lihat hamba kecil-Mu itu sudah lelah? Ia tampak ingin menyerah meski yang orang lain lihat hanyalah kesombongan dalam dirinya. Padahal dia yang sesungguhnya terlihat di sorot matanya, kosong dan gelap. Tuhan... Jika kedua tangan kekar itu tak cukup untuk bisa Engkau kabulkan doanya, akan kuberikan dengan sangat rela kedua tangan kecilku ini untuk mengaminkan seluruh harap atas keputusasaannya. Apakah masih kurang cukup bagi-Mu untuk membukak...
Aku sudah menemukan kembali Pangeranku. Doakan saja agar tak hilang lagi.