Tuhan...
Anak lelaki di hadapanku ini tersenyum dalam tidurnya, bahkan saat dunianya sedang hancur-hancurnya. Bagaimana bisa kau ciptakan hati yang terlihat kuat tapi nyatanya sangat rapuh itu, pada seorang anak lelaki yang seharusnya tertawa di luar sana dan merasa lelah karena terlalu banyak menghabiskan waktu namun nyatanya hanya menatap dirinya sendiri di ruang hampa tanpa siapapun di sampingnya. Berbicara pada diri sendiri, menyalahkan diri sendiri dan berandai-andai agar hidupnya seperti anak lelaki yang lain.
Tuhan...
Tidakkah kau lihat hamba kecil-Mu itu sudah lelah? Ia tampak ingin menyerah meski yang orang lain lihat hanyalah kesombongan dalam dirinya. Padahal dia yang sesungguhnya terlihat di sorot matanya, kosong dan gelap.
Tuhan...
Jika kedua tangan kekar itu tak cukup untuk bisa Engkau kabulkan doanya, akan kuberikan dengan sangat rela kedua tangan kecilku ini untuk mengaminkan seluruh harap atas keputusasaannya. Apakah masih kurang cukup bagi-Mu untuk membukakan jalan untuknya? Apakah perlu untuk kubagi seluruh air mataku untuk mendobrak paksa gerbang kebahagiaannya yang sangat Kau kunci rapat?
Tuhan...
Anak lelaki itu sudah lama terjebak di persimpangan yang membuatnya bingung menentukan arahnya. Jika memang hadirku untuk membantunya menemukan jalan, setidaknya berikan aku kekuatan untuk menarik tangannya dan membuat ia percaya bahwa aku akan membawa langkahnya sampai di jalan yang sangat ingin didatanginya. Berikan aku cahaya yang cukup agar ia tak lagi berjalan dalam kegelapan.
Tuhan...
Berikan kesempatan dia bahagia setidaknya untuk waktu yang sedikit lebih lama. Aku juga ingin melihatnya tersenyum saat benar-benar bahagia, bukan untuk sekedar menyembunyikan luka.
Komentar
Posting Komentar