Langsung ke konten utama

Kesalahpahaman

Satu-satunya yang mampu menghancurkan hubungan yang sudah terjalin begitu kuat bukanlah jarak, orang ketiga, bahkan masalah yang besar lainnya, tapi 'kesalahpahaman'.

Seperti hubunganku dengan dia yang sudah terjalin hingga lebih dari dua tahun terakhir, harus berakhir hanya karna aku tak mampu mengartikan keadaan dan kesalahpahaman menghujani.

Banyak hal lebih besar yang mampu aku dan dia hadapi sebelum akhirnya kami harus hancur hanya karna masalah kecil yang seringkali terasa tak terlalu penting.

Bukankah kesalahpahaman begitu hebat ? ia hanya bagian dari masalah kecil namun mampu menghancurkan istana indah seperti di dongeng kesukaanku yang sudah bertahun-tahun ku bangun dengan lelaki yang begitu berharga untukku, yang begitu kuinginkan untuk tinggal bersamaku di istana megah yang kami ciptakan dengan penuh perasaan itu.

Kesalahpahaman itu membuatku pergi dari sisi lelaki yang teramat kucinta, dan kesalahpahaman itu juga yang membuat lelaki itu tak lagi ingin kembali.

Aku tak tahu harus melakukan apa dan bagaimana sekarang. Aku menyesali kepergianku dan ingin ia kembali. Namun, tak ada hal selain menangisi kehilangan dan memaki diri sendiri yang teramat menyedihkan ini, yang bisa kulakukan. Pedih, menyakitkan.

Bagaimanapun, tak akan bisa aku membangun lagi istana itu dengan air mataku.

Perasaannya, barangkali sudah tak lagi berada di tempatnya. Hatinya, mungkin saja sudah bukan lagi aku yang bersarang di sana.
Kesalahpahaman kecil itu telah menghancurkan segalanya, mengambil semua yang ku punya.

Entah siapa yang bisa kusalahkan kecuali diriku sendiri yang begitu bodohnya pergi tanpa berpikir bahwa akan seperti ini jadinya.

Dan kini, aku harus menerima. Bahwa akhir dari hubunganku dengan lelaki istimewa itu hanyalah tentang ; aku yang memilih kalah disaat dia memilih untuk mengalah.

Komentar

  1. Bagus kak,��
    Kakak. Gk nulia lagi ya???
    Sekali-kali nulis tentang perjalanan cinta keluarga dan teman serta dukungan dalam hidup kak.

    Soalnya aku jomblo��
    Aneh baca tentang Cinta

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Kecil untuk Tuhan

Tuhan... Anak lelaki di hadapanku ini tersenyum dalam tidurnya, bahkan saat dunianya sedang hancur-hancurnya. Bagaimana bisa kau ciptakan hati yang terlihat kuat tapi nyatanya sangat rapuh itu, pada seorang anak lelaki yang seharusnya tertawa di luar sana dan merasa lelah karena terlalu banyak menghabiskan waktu namun nyatanya hanya menatap dirinya sendiri di ruang hampa tanpa siapapun di sampingnya. Berbicara pada diri sendiri, menyalahkan diri sendiri dan berandai-andai agar hidupnya seperti anak lelaki yang lain.  Tuhan... Tidakkah kau lihat hamba kecil-Mu itu sudah lelah? Ia tampak ingin menyerah meski yang orang lain lihat hanyalah kesombongan dalam dirinya. Padahal dia yang sesungguhnya terlihat di sorot matanya, kosong dan gelap.  Tuhan... Jika kedua tangan kekar itu tak cukup untuk bisa Engkau kabulkan doanya, akan kuberikan dengan sangat rela kedua tangan kecilku ini untuk mengaminkan seluruh harap atas keputusasaannya. Apakah masih kurang cukup bagi-Mu untuk membukak...

Tentang Waktu, Kawan dan Kepergian.

Aku pernah memiliki segalanya dan merasa bangga. Hingga waktu mengambil semua dan yang tersisa hanya kekecewaan. Mereka pernah beramai-ramai hadir dalam hidupku, sampai tiba saatnya mereka pergi begitu saja. Tanpa pesan, atau bahkan kalimat singkat saja pun tak ada. Dan yang tersisa cuma; kesendirian. Hampa yang kurasa saat mereka memilih berlalu. Sepi, kosong dan sendiri ketika mereka memilih untuk tiada. Ingin berteriak, ingin memaki, tapi aku juga tak tahu harus kepada siapa dan harus menyalahkan siapa. Pernah ada saat aku butuh sekali lengan-lengan untuk menarikku bangkit dari keterpurukan, namun tak ada yang bersedia. Jika boleh marah, jika boleh mengingat-ingat lagi. Aku tak pernah tega membiarkan siapapun di sampingku merasa sedih, terpuruk dan merasa buruk ketika dunia menjatuhkan mereka. Namun saat aku yang jatuh tersuruk, mereka malah berjalan semakin menjauhi. Mereka ada, tapi memilih untuk tak ingin ada di saat aku sedang kacau-kacaunya. Sedang di saat duniaku bai...

Aku Tidak Pernah Baik-Baik Saja

Aku tidak pernah baik-baik saja, kecuali ketika bertemu dengan keluarga dan beberapa orang yang memang sangat ingin kutemui. Belakangan ini, sejak tahun lalu, aku mengalami demotivasi. Aku malas melakukan rutinitas seperti biasa kecuali yang sifatnya memang harus kulakukan. Bahkan, untuk makan saja sangat berat rasanya.  Aku menghabiskan uangku untuk hal yang ga berguna bukan karna aku boros, tapi karna untuk saat itu, benda itu akan membuat moodku menjadi lebih baik.  Aku mendahulukan kebahagiaan orang lain, bukan karna aku bodoh tak memikirkan diriku sendiri. tapi aku juga tidak tau apa yang bisa membuatku bahagia.  Aku membeli makanan mahal bukan karna aku sombong karna punya banyak uang. Tapi tak ada hal lain yang ingin aku makan kecuali makanan yang benar-benar ingin aku makan.  Aku tertawa di depan semua orang, membercandakan hal-hal yang tidak perlu, berbicara terus-menerus seolah-olah aku adalah orang paling ceria. Tapi, kenyataan yang orang lain tidak tau ad...