Langsung ke konten utama

Patah Tumbuh, Bukan Hilang Berganti

Jika patah tumbuh, hilang berganti.

Maka aku ingin kisah kita kali ini adalah sebuah kepatahan, agar suatu hari nanti dapat tumbuh lagi dengan perasaan yang lebih indah.
Namun aku tak ingin menganggapnya sebagai suatu kehilangan, sebab aku tak ingin kau berganti.

Aku menerima kepatahan-kepatahan ini sebagai jalan menuju kita yang nantinya akan benar-benar layak disandingkan oleh Tuhan. Biarlah aku berjalan sendirian untuk saat ini, asalkan di ujung jalan nanti kutemui kamu dan kumiliki kamu lagi.

Aku tak merasa kau hilang, karena bagiku kau tetap diam di tempatmu dan tak akan pernah pergi kemana-mana.

Tak apa jika aku harus melangkah tanpamu kali ini, tak masalah jika hati harus patah berkali-kali.
Aku percaya, takdir akan menumbuhkan lagi rasa itu hingga nanti kita akan saling menemukan dengan hati yang sudah utuh kembali.

Untuk 'kamu' yang kusebut dalam tulisan ini, juga jangan pernah anggap aku hilang. Aku hanya sedang berusaha memantaskan diri biar aku saja yang mengisi bagian kosong dirimu. Aku tak pernah ingin kau menggantikanku dengan perempuan lain. Aku percaya lebihku mampu melengkapi kurangmu dan kamu mampu menyempurnakan ketidaksempurnaanku.

Percayalah, kita ini sebenarnya satu. Namun untuk benar-benar utuh, kita hanya perlu waktu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Kecil untuk Tuhan

Tuhan... Anak lelaki di hadapanku ini tersenyum dalam tidurnya, bahkan saat dunianya sedang hancur-hancurnya. Bagaimana bisa kau ciptakan hati yang terlihat kuat tapi nyatanya sangat rapuh itu, pada seorang anak lelaki yang seharusnya tertawa di luar sana dan merasa lelah karena terlalu banyak menghabiskan waktu namun nyatanya hanya menatap dirinya sendiri di ruang hampa tanpa siapapun di sampingnya. Berbicara pada diri sendiri, menyalahkan diri sendiri dan berandai-andai agar hidupnya seperti anak lelaki yang lain.  Tuhan... Tidakkah kau lihat hamba kecil-Mu itu sudah lelah? Ia tampak ingin menyerah meski yang orang lain lihat hanyalah kesombongan dalam dirinya. Padahal dia yang sesungguhnya terlihat di sorot matanya, kosong dan gelap.  Tuhan... Jika kedua tangan kekar itu tak cukup untuk bisa Engkau kabulkan doanya, akan kuberikan dengan sangat rela kedua tangan kecilku ini untuk mengaminkan seluruh harap atas keputusasaannya. Apakah masih kurang cukup bagi-Mu untuk membukak...

Tentang Waktu, Kawan dan Kepergian.

Aku pernah memiliki segalanya dan merasa bangga. Hingga waktu mengambil semua dan yang tersisa hanya kekecewaan. Mereka pernah beramai-ramai hadir dalam hidupku, sampai tiba saatnya mereka pergi begitu saja. Tanpa pesan, atau bahkan kalimat singkat saja pun tak ada. Dan yang tersisa cuma; kesendirian. Hampa yang kurasa saat mereka memilih berlalu. Sepi, kosong dan sendiri ketika mereka memilih untuk tiada. Ingin berteriak, ingin memaki, tapi aku juga tak tahu harus kepada siapa dan harus menyalahkan siapa. Pernah ada saat aku butuh sekali lengan-lengan untuk menarikku bangkit dari keterpurukan, namun tak ada yang bersedia. Jika boleh marah, jika boleh mengingat-ingat lagi. Aku tak pernah tega membiarkan siapapun di sampingku merasa sedih, terpuruk dan merasa buruk ketika dunia menjatuhkan mereka. Namun saat aku yang jatuh tersuruk, mereka malah berjalan semakin menjauhi. Mereka ada, tapi memilih untuk tak ingin ada di saat aku sedang kacau-kacaunya. Sedang di saat duniaku bai...

Aku Tidak Pernah Baik-Baik Saja

Aku tidak pernah baik-baik saja, kecuali ketika bertemu dengan keluarga dan beberapa orang yang memang sangat ingin kutemui. Belakangan ini, sejak tahun lalu, aku mengalami demotivasi. Aku malas melakukan rutinitas seperti biasa kecuali yang sifatnya memang harus kulakukan. Bahkan, untuk makan saja sangat berat rasanya.  Aku menghabiskan uangku untuk hal yang ga berguna bukan karna aku boros, tapi karna untuk saat itu, benda itu akan membuat moodku menjadi lebih baik.  Aku mendahulukan kebahagiaan orang lain, bukan karna aku bodoh tak memikirkan diriku sendiri. tapi aku juga tidak tau apa yang bisa membuatku bahagia.  Aku membeli makanan mahal bukan karna aku sombong karna punya banyak uang. Tapi tak ada hal lain yang ingin aku makan kecuali makanan yang benar-benar ingin aku makan.  Aku tertawa di depan semua orang, membercandakan hal-hal yang tidak perlu, berbicara terus-menerus seolah-olah aku adalah orang paling ceria. Tapi, kenyataan yang orang lain tidak tau ad...