Langsung ke konten utama

A K U

Aku adalah tetes air hujan yang sengaja jatuh di pelupuk matamu lalu kau usap dengan sapu tanganmu. Mungkin karena jatuhku mengganggu pandanganmu.
Aku adalah sinar matahari yang sering kau maki karena terlalu terik dan seringkali terasa menyengat kulitmu. Lalu kau percepat gerakmu agar segera menemukan tempat teduh untuk menghindari panas sebab cahayaku yang berlebihan.
Aku adalah dingin malam yang begitu kau benci lalu memilih bersembunyi di balik selimut tebal yang kau anggap mampu menepis udaraku agar dingin tak merasuk hingga ke tulangmu dan kau bisa tidur dengan nyenyak dengan mendekap kehangatan.
Aku ingin kau tau satu hal. Bahwa aku merasa begitu bodoh. Aku tak pernah tahu bagaimana cara mencintaimu dengan benar. Aku tak pernah mengerti tentang bagaimana agar membuatmu merasa nyaman dan damai dengan caraku. Aku selalu salah dalam menyampaikan bentuk sayangku kepadamu.
Aku sengaja jatuh di pelupuk matamu agar kau menatap tetes yang lain dan melihat bahwa ada ketulusan dalam beningnya tetesanku lalu berharap kau menyukainya, namun kau malah menghapus satu bagianku lalu bersembunyi agar aku tak lagi jatuh mengenaimu.
Aku ingin hari-harimu cerah secerah wajah bahagiamu. Namun sinarku tak mampu ku kendalikan dengan baik hingga terik yang menyertai langkahmu. Maaf jika aku justru menyakiti dan mengganggu harimu.
Aku juga ingin menyejukkan jiwamu lewat dingin yang kutebarkan di setiap malammu. Namun, lagi-lagi aku gagal membuatmu merasa nyaman. Maaf jika aku membuatmu menggigil kedinginan dan bersembunyi di balik kain tebal itu.
Berkali-kali sudah kucoba namun kau tak juga mampu menerima caraku. Malah semakin membuatmu mencari sesuatu yang lain untuk menghindariku. Mungkin aku yang salah, mungkin egoku yang terlalu memaksa ingin bersamamu hingga akhirnya aku lupa diri, sampai akhirnya aku sendiri yang membuatmu muak dengan segala hal yang kuberi hanya karna keegoisanku.
Mungkin itulah aku, adalah apa yang tak pernah kau inginkan ada namun selalu mengganggumu. Maaf untuk caraku yang berlebihan. Aku menyadari bahwa kau tak akan pernah bisa mengerti isyarat bahwa aku menyayangimu sebegitu besarnya dan sebegitu inginnya kau membalas perasaanku.
Aku mengerti, dan aku akan berusaha untuk mencintaimu tanpa membuatmu merasa terganggu lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Kecil untuk Tuhan

Tuhan... Anak lelaki di hadapanku ini tersenyum dalam tidurnya, bahkan saat dunianya sedang hancur-hancurnya. Bagaimana bisa kau ciptakan hati yang terlihat kuat tapi nyatanya sangat rapuh itu, pada seorang anak lelaki yang seharusnya tertawa di luar sana dan merasa lelah karena terlalu banyak menghabiskan waktu namun nyatanya hanya menatap dirinya sendiri di ruang hampa tanpa siapapun di sampingnya. Berbicara pada diri sendiri, menyalahkan diri sendiri dan berandai-andai agar hidupnya seperti anak lelaki yang lain.  Tuhan... Tidakkah kau lihat hamba kecil-Mu itu sudah lelah? Ia tampak ingin menyerah meski yang orang lain lihat hanyalah kesombongan dalam dirinya. Padahal dia yang sesungguhnya terlihat di sorot matanya, kosong dan gelap.  Tuhan... Jika kedua tangan kekar itu tak cukup untuk bisa Engkau kabulkan doanya, akan kuberikan dengan sangat rela kedua tangan kecilku ini untuk mengaminkan seluruh harap atas keputusasaannya. Apakah masih kurang cukup bagi-Mu untuk membukak...

Tentang Waktu, Kawan dan Kepergian.

Aku pernah memiliki segalanya dan merasa bangga. Hingga waktu mengambil semua dan yang tersisa hanya kekecewaan. Mereka pernah beramai-ramai hadir dalam hidupku, sampai tiba saatnya mereka pergi begitu saja. Tanpa pesan, atau bahkan kalimat singkat saja pun tak ada. Dan yang tersisa cuma; kesendirian. Hampa yang kurasa saat mereka memilih berlalu. Sepi, kosong dan sendiri ketika mereka memilih untuk tiada. Ingin berteriak, ingin memaki, tapi aku juga tak tahu harus kepada siapa dan harus menyalahkan siapa. Pernah ada saat aku butuh sekali lengan-lengan untuk menarikku bangkit dari keterpurukan, namun tak ada yang bersedia. Jika boleh marah, jika boleh mengingat-ingat lagi. Aku tak pernah tega membiarkan siapapun di sampingku merasa sedih, terpuruk dan merasa buruk ketika dunia menjatuhkan mereka. Namun saat aku yang jatuh tersuruk, mereka malah berjalan semakin menjauhi. Mereka ada, tapi memilih untuk tak ingin ada di saat aku sedang kacau-kacaunya. Sedang di saat duniaku bai...

Aku Tidak Pernah Baik-Baik Saja

Aku tidak pernah baik-baik saja, kecuali ketika bertemu dengan keluarga dan beberapa orang yang memang sangat ingin kutemui. Belakangan ini, sejak tahun lalu, aku mengalami demotivasi. Aku malas melakukan rutinitas seperti biasa kecuali yang sifatnya memang harus kulakukan. Bahkan, untuk makan saja sangat berat rasanya.  Aku menghabiskan uangku untuk hal yang ga berguna bukan karna aku boros, tapi karna untuk saat itu, benda itu akan membuat moodku menjadi lebih baik.  Aku mendahulukan kebahagiaan orang lain, bukan karna aku bodoh tak memikirkan diriku sendiri. tapi aku juga tidak tau apa yang bisa membuatku bahagia.  Aku membeli makanan mahal bukan karna aku sombong karna punya banyak uang. Tapi tak ada hal lain yang ingin aku makan kecuali makanan yang benar-benar ingin aku makan.  Aku tertawa di depan semua orang, membercandakan hal-hal yang tidak perlu, berbicara terus-menerus seolah-olah aku adalah orang paling ceria. Tapi, kenyataan yang orang lain tidak tau ad...