Langsung ke konten utama

Pengingat Kecil untuk Hati Yang Telah Pergi

Aku pernah berjanji bahwa apapun keadaannya, kau tak akan pernah terganti. Tak akan pernah kuusir dari hati. Dan sepertinya, Tuhan mengijinkan aku menjaga janji-janji bersetia itu dengan tak menjatuhkan hatiku pada siapapun selain kamu.

Kau selalu punya cara yang sederhana untuk bisa membuatku jatuh dan mencinta. Sedangkan aku, sampai detik ini masih tak kunjung kutemukan cara agar hatimu mampu kumiliki. Yang bisa kulakukan hanyalah menunggu doa-doaku membawa datangmu, dan resah selalu hadir sebagai pengganggu tenangku.

Mungkin, nanti kau juga akan rindu. Lalu mengingat bahwa pernah setega itu aku kau abaikan. Dan ketika saat itu tiba, satu impianku terwujud; kau menyadari apa yang telah kau lewatkan dan usahaku menjadi tak lagi sia-sia. Biarpun hanya sebatas kau sadari. Dan itupun hanyalah kemungkinan dalam angan-anganku saja.

Tapi, coba kau ingat ini!. Walau aku kini bukan lagi perempuanmu; yang kau cintai ketiga setelah Ibu dan Adik perempuanmu yang cantik, kau tetaplah lelaki keras kepala kedua yang kucinta teramat sangat setelah Ayahku. Lelaki yang selalu aku inginkan untuk terus bahagia. Meski aku tak lagi ada dalam daftar isi alasan bahagia-bahagiamu. 

Kamu, lelaki berhati dingin yang tak sekalipun ingin kulihat pudar senyum di wajahmu. Terima kasih, karena masih menganggapku ada, walau hanya sebatas teman bagimu. Setidaknya aku bahagia bisa berada di dekatmu, menjadi saksi nyata senyum dan tawamu. Meskipun setelahnya, aku akan tersiksa rindu karena tak menemukan wajahmu lagi di hari-hari berikutnya.

Meski bukan ini yang sebenarnya aku inginkan, tapi aku sangat mensyukuri keadaan ini. Paling tidak, ada beberapa dari ribuan doaku tentangmu, dikabulkan oleh Tuhan. Tenang saja, aku tak akan seegois itu memaksa agar kau mencintaiku seperti yang kulakukan padamu. Teruskan saja langkahmu jika kau memang ingin berlalu. Biarkan saja hujan yang menetes di pipi yang tau seberapa banyak cinta yang jatuh namun tak kau sambut. Aku tak mengapa. Aku akan mencoba baik-baik saja jika itu yang terbaik untukmu.

Tapi, bolehkan aku meminta satu. Biarkanlah di setiap sujudku aku tetap memohonkanmu pada Tuhan; semoga lelaki yang menemaniku menghabiskan sisa umurku nanti adalah kamu, lelaki yang selalu kuperhatikan dari balik jendela kelas setiap pagi hingga kau beranjak pulang saat sekolah telah usai (dulu). Ijinkan aku memohon agar tetap diberi kamu di ujung jalanku nanti. Walaupun aku tak akan pernah tau, bersediakah Tuhan membukakan hatimu lagi untukku atau tidak sama sekali.

Satu hal lagi. Jangan lupa bahagia. Jika kau tak menemukan peluk yang mampu membuatmu nyaman, aku akan selalu bersedia menjadi tempat pulang terbaik untukmu. Lenganku akan selalu siap mendekap segala penat yang menyesakkan dadamu dan menjadi tempat ternyaman untuk penenang seluruh kacaumu.

Ingatlah ini. Kapanpun itu, tak akan ada yang berubah dari isi hati dan tulisan-tulisan ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Kecil untuk Tuhan

Tuhan... Anak lelaki di hadapanku ini tersenyum dalam tidurnya, bahkan saat dunianya sedang hancur-hancurnya. Bagaimana bisa kau ciptakan hati yang terlihat kuat tapi nyatanya sangat rapuh itu, pada seorang anak lelaki yang seharusnya tertawa di luar sana dan merasa lelah karena terlalu banyak menghabiskan waktu namun nyatanya hanya menatap dirinya sendiri di ruang hampa tanpa siapapun di sampingnya. Berbicara pada diri sendiri, menyalahkan diri sendiri dan berandai-andai agar hidupnya seperti anak lelaki yang lain.  Tuhan... Tidakkah kau lihat hamba kecil-Mu itu sudah lelah? Ia tampak ingin menyerah meski yang orang lain lihat hanyalah kesombongan dalam dirinya. Padahal dia yang sesungguhnya terlihat di sorot matanya, kosong dan gelap.  Tuhan... Jika kedua tangan kekar itu tak cukup untuk bisa Engkau kabulkan doanya, akan kuberikan dengan sangat rela kedua tangan kecilku ini untuk mengaminkan seluruh harap atas keputusasaannya. Apakah masih kurang cukup bagi-Mu untuk membukak...

Tentang Waktu, Kawan dan Kepergian.

Aku pernah memiliki segalanya dan merasa bangga. Hingga waktu mengambil semua dan yang tersisa hanya kekecewaan. Mereka pernah beramai-ramai hadir dalam hidupku, sampai tiba saatnya mereka pergi begitu saja. Tanpa pesan, atau bahkan kalimat singkat saja pun tak ada. Dan yang tersisa cuma; kesendirian. Hampa yang kurasa saat mereka memilih berlalu. Sepi, kosong dan sendiri ketika mereka memilih untuk tiada. Ingin berteriak, ingin memaki, tapi aku juga tak tahu harus kepada siapa dan harus menyalahkan siapa. Pernah ada saat aku butuh sekali lengan-lengan untuk menarikku bangkit dari keterpurukan, namun tak ada yang bersedia. Jika boleh marah, jika boleh mengingat-ingat lagi. Aku tak pernah tega membiarkan siapapun di sampingku merasa sedih, terpuruk dan merasa buruk ketika dunia menjatuhkan mereka. Namun saat aku yang jatuh tersuruk, mereka malah berjalan semakin menjauhi. Mereka ada, tapi memilih untuk tak ingin ada di saat aku sedang kacau-kacaunya. Sedang di saat duniaku bai...

Aku Tidak Pernah Baik-Baik Saja

Aku tidak pernah baik-baik saja, kecuali ketika bertemu dengan keluarga dan beberapa orang yang memang sangat ingin kutemui. Belakangan ini, sejak tahun lalu, aku mengalami demotivasi. Aku malas melakukan rutinitas seperti biasa kecuali yang sifatnya memang harus kulakukan. Bahkan, untuk makan saja sangat berat rasanya.  Aku menghabiskan uangku untuk hal yang ga berguna bukan karna aku boros, tapi karna untuk saat itu, benda itu akan membuat moodku menjadi lebih baik.  Aku mendahulukan kebahagiaan orang lain, bukan karna aku bodoh tak memikirkan diriku sendiri. tapi aku juga tidak tau apa yang bisa membuatku bahagia.  Aku membeli makanan mahal bukan karna aku sombong karna punya banyak uang. Tapi tak ada hal lain yang ingin aku makan kecuali makanan yang benar-benar ingin aku makan.  Aku tertawa di depan semua orang, membercandakan hal-hal yang tidak perlu, berbicara terus-menerus seolah-olah aku adalah orang paling ceria. Tapi, kenyataan yang orang lain tidak tau ad...