Aku pernah berjanji bahwa apapun keadaannya, kau tak akan pernah terganti. Tak akan pernah kuusir dari hati. Dan sepertinya, Tuhan mengijinkan aku menjaga janji-janji bersetia itu dengan tak menjatuhkan hatiku pada siapapun selain kamu.
Kau selalu punya cara yang sederhana untuk bisa membuatku jatuh dan mencinta. Sedangkan aku, sampai detik ini masih tak kunjung kutemukan cara agar hatimu mampu kumiliki. Yang bisa kulakukan hanyalah menunggu doa-doaku membawa datangmu, dan resah selalu hadir sebagai pengganggu tenangku.
Mungkin, nanti kau juga akan rindu. Lalu mengingat bahwa pernah setega itu aku kau abaikan. Dan ketika saat itu tiba, satu impianku terwujud; kau menyadari apa yang telah kau lewatkan dan usahaku menjadi tak lagi sia-sia. Biarpun hanya sebatas kau sadari. Dan itupun hanyalah kemungkinan dalam angan-anganku saja.
Tapi, coba kau ingat ini!. Walau aku kini bukan lagi perempuanmu; yang kau cintai ketiga setelah Ibu dan Adik perempuanmu yang cantik, kau tetaplah lelaki keras kepala kedua yang kucinta teramat sangat setelah Ayahku. Lelaki yang selalu aku inginkan untuk terus bahagia. Meski aku tak lagi ada dalam daftar isi alasan bahagia-bahagiamu.
Kamu, lelaki berhati dingin yang tak sekalipun ingin kulihat pudar senyum di wajahmu. Terima kasih, karena masih menganggapku ada, walau hanya sebatas teman bagimu. Setidaknya aku bahagia bisa berada di dekatmu, menjadi saksi nyata senyum dan tawamu. Meskipun setelahnya, aku akan tersiksa rindu karena tak menemukan wajahmu lagi di hari-hari berikutnya.
Meski bukan ini yang sebenarnya aku inginkan, tapi aku sangat mensyukuri keadaan ini. Paling tidak, ada beberapa dari ribuan doaku tentangmu, dikabulkan oleh Tuhan. Tenang saja, aku tak akan seegois itu memaksa agar kau mencintaiku seperti yang kulakukan padamu. Teruskan saja langkahmu jika kau memang ingin berlalu. Biarkan saja hujan yang menetes di pipi yang tau seberapa banyak cinta yang jatuh namun tak kau sambut. Aku tak mengapa. Aku akan mencoba baik-baik saja jika itu yang terbaik untukmu.
Tapi, bolehkan aku meminta satu. Biarkanlah di setiap sujudku aku tetap memohonkanmu pada Tuhan; semoga lelaki yang menemaniku menghabiskan sisa umurku nanti adalah kamu, lelaki yang selalu kuperhatikan dari balik jendela kelas setiap pagi hingga kau beranjak pulang saat sekolah telah usai (dulu). Ijinkan aku memohon agar tetap diberi kamu di ujung jalanku nanti. Walaupun aku tak akan pernah tau, bersediakah Tuhan membukakan hatimu lagi untukku atau tidak sama sekali.
Satu hal lagi. Jangan lupa bahagia. Jika kau tak menemukan peluk yang mampu membuatmu nyaman, aku akan selalu bersedia menjadi tempat pulang terbaik untukmu. Lenganku akan selalu siap mendekap segala penat yang menyesakkan dadamu dan menjadi tempat ternyaman untuk penenang seluruh kacaumu.
Ingatlah ini. Kapanpun itu, tak akan ada yang berubah dari isi hati dan tulisan-tulisan ini.
Komentar
Posting Komentar