Dicintaimu aku tak pernah benar-benar merasa ada. Setiap kata cinta yang kau ucap kupikir hanya sebuah kalimat untuk sekadar menganggap aku ada. Aku tak pernah merasa seberarti itu di matamu. Tatapanmu kosong saat berhadapan denganku dan tawamu tak pernah tulus saat bersamaku.
Aku seringkali menceritakan tentangmu ke teman-temanku. Sebuah kebanggaan ketika aku merasa beruntung memilikimu. Namun pernah suatu saat langkahku tiba-tiba terhenti dan perbincangan tentangmu juga kuhentikan. Kau tau kenapa?
Temanku bertanya, "lalu mengapa kalian menjadi seperti sekarang?" aku terdiam, saat itu juga aku menyadari satu hal.
Hanya aku yang mencintaimu dan kau tidak. Kita hanya sebatas kata hampir, persis seperti cerita dalam buku yang baru kubaca beberapa waktu lalu.
Selama ini kau hanya berusaha mencintaiku, berusaha membahagiakan aku, berusaha menyembunyikan perasaanmu yang sebenarnya.
Kukira kau sesayang itu, tapi nyatanya sedikitpun tak ada rasa itu yang sampai. Aku buta, perasaanku yang terlalu besar untukmu telah menutupi semua perasaan yang masih kau coba bukakan untukku. Hatimu tak pernah mampu kumiliki seutuhnya. bersamaku kau masih setengah hati.
Matamu berbinar setiap kali menyebutkan bagaimana rupa gadis yang kau idamkan, seakan suatu hari nanti kau mampu menemukannya. Rasanya menyakitkan karna perempuan itu bukanlah aku.
Aku sadar. Aku tak pernah kau inginkan. Tak pernah ada dalam daftar perempuan yang kau mimpikan bisa hidup satu rumah denganmu.
Terpikir olehku selama ini mungkin saja kau selalu mengutuk dirimu mengapa bisa seceroboh itu jatuh ke genggamanku. Mengapa bisa terpikat pada seseorang yang tak ada apa-apanya, bahkan jauh dari seseorang yang selalu kau bayangkan.
Selama ini aku yang beruntung memilikimu, sedangkan kau tidak. Hal itu kutau saat kau menceritakan perempuan lain ketika sedang bersamaku. Kau begitu membanggakannya, memujinya hingga kau lupa siapa perempuan yang ada di hadapanmu saat itu. Dan seperti yang kukatakan di awal, aku buta. Aku tak menyadari semua itu sebab perasaanku yang terlalu dalam dan kepura-puraanmu yang tak pernah kusangka.
Hari itu aku gagal menceritakanmu hingga tuntas. Mungkin cerita kitalah yang harus segera kutuntaskan. Temanku benar-benar berhasil mematahkan hatiku saat itu, namun ia berhasil membuka jalan keluar atas semua perubahan sikapmu yang tak kusadari apa maksudnya.
Meski aku takut, walau aku masih ragu. Aku tak harus memaksakan perasaanmu. Mencintaimu saja mungkin cukup tanpa mendesakmu untuk membalas perasaan yang sama.
Satu-satunya cara membahagiakanmu mungkin dengan melepaskanmu dan membiarkanmu pergi bersama dengan perempuan yang kau inginkan.
Aku tak tau sepedih apa perasaanku nanti melihat perempuan itu menempati ruang di hatimu tanpa berjuang sedikitpun sebab memang kau menginginkannya tanpa ia melakukan apa-apa. Ia ada untukmu saja kau sudah bahagia.
Semoga kau menemukannya, semoga ia bersedia menjadi seseorang yang kau cinta dan mencintaimu. Mencintai pada akhirnya memang bukan tentang memiliki, teruntuk mencintaimu. Kau berhak bersama seseorang yang kau cinta, dan aku tak punya hak untuk memaksa agar perempuan itu aku.
Temukan dia, lalu berbahagialah. Doaku selalu menemani langkahmu. Namun jika hatimu patah karenanya, aku ada.
Salam untuk perempuan yang beruntung mendapatkan utuh hatimu itu.
Aku seringkali menceritakan tentangmu ke teman-temanku. Sebuah kebanggaan ketika aku merasa beruntung memilikimu. Namun pernah suatu saat langkahku tiba-tiba terhenti dan perbincangan tentangmu juga kuhentikan. Kau tau kenapa?
Temanku bertanya, "lalu mengapa kalian menjadi seperti sekarang?" aku terdiam, saat itu juga aku menyadari satu hal.
Hanya aku yang mencintaimu dan kau tidak. Kita hanya sebatas kata hampir, persis seperti cerita dalam buku yang baru kubaca beberapa waktu lalu.
Selama ini kau hanya berusaha mencintaiku, berusaha membahagiakan aku, berusaha menyembunyikan perasaanmu yang sebenarnya.
Kukira kau sesayang itu, tapi nyatanya sedikitpun tak ada rasa itu yang sampai. Aku buta, perasaanku yang terlalu besar untukmu telah menutupi semua perasaan yang masih kau coba bukakan untukku. Hatimu tak pernah mampu kumiliki seutuhnya. bersamaku kau masih setengah hati.
Matamu berbinar setiap kali menyebutkan bagaimana rupa gadis yang kau idamkan, seakan suatu hari nanti kau mampu menemukannya. Rasanya menyakitkan karna perempuan itu bukanlah aku.
Aku sadar. Aku tak pernah kau inginkan. Tak pernah ada dalam daftar perempuan yang kau mimpikan bisa hidup satu rumah denganmu.
Terpikir olehku selama ini mungkin saja kau selalu mengutuk dirimu mengapa bisa seceroboh itu jatuh ke genggamanku. Mengapa bisa terpikat pada seseorang yang tak ada apa-apanya, bahkan jauh dari seseorang yang selalu kau bayangkan.
Selama ini aku yang beruntung memilikimu, sedangkan kau tidak. Hal itu kutau saat kau menceritakan perempuan lain ketika sedang bersamaku. Kau begitu membanggakannya, memujinya hingga kau lupa siapa perempuan yang ada di hadapanmu saat itu. Dan seperti yang kukatakan di awal, aku buta. Aku tak menyadari semua itu sebab perasaanku yang terlalu dalam dan kepura-puraanmu yang tak pernah kusangka.
Hari itu aku gagal menceritakanmu hingga tuntas. Mungkin cerita kitalah yang harus segera kutuntaskan. Temanku benar-benar berhasil mematahkan hatiku saat itu, namun ia berhasil membuka jalan keluar atas semua perubahan sikapmu yang tak kusadari apa maksudnya.
Meski aku takut, walau aku masih ragu. Aku tak harus memaksakan perasaanmu. Mencintaimu saja mungkin cukup tanpa mendesakmu untuk membalas perasaan yang sama.
Satu-satunya cara membahagiakanmu mungkin dengan melepaskanmu dan membiarkanmu pergi bersama dengan perempuan yang kau inginkan.
Aku tak tau sepedih apa perasaanku nanti melihat perempuan itu menempati ruang di hatimu tanpa berjuang sedikitpun sebab memang kau menginginkannya tanpa ia melakukan apa-apa. Ia ada untukmu saja kau sudah bahagia.
Semoga kau menemukannya, semoga ia bersedia menjadi seseorang yang kau cinta dan mencintaimu. Mencintai pada akhirnya memang bukan tentang memiliki, teruntuk mencintaimu. Kau berhak bersama seseorang yang kau cinta, dan aku tak punya hak untuk memaksa agar perempuan itu aku.
Temukan dia, lalu berbahagialah. Doaku selalu menemani langkahmu. Namun jika hatimu patah karenanya, aku ada.
Salam untuk perempuan yang beruntung mendapatkan utuh hatimu itu.
Komentar
Posting Komentar