Langsung ke konten utama

Terpaksa Tuntas

Dicintaimu aku tak pernah benar-benar merasa ada. Setiap kata cinta yang kau ucap kupikir hanya sebuah kalimat untuk sekadar menganggap aku ada. Aku tak pernah merasa seberarti itu di matamu. Tatapanmu kosong saat berhadapan denganku dan tawamu tak pernah tulus saat bersamaku.

Aku seringkali menceritakan tentangmu ke teman-temanku. Sebuah kebanggaan ketika aku merasa beruntung memilikimu. Namun pernah suatu saat langkahku tiba-tiba terhenti dan perbincangan tentangmu juga kuhentikan. Kau tau kenapa?

Temanku bertanya, "lalu mengapa kalian menjadi seperti sekarang?" aku terdiam, saat itu juga aku menyadari satu hal.

Hanya aku yang mencintaimu dan kau tidak. Kita hanya sebatas kata hampir, persis seperti cerita dalam buku yang baru kubaca beberapa waktu lalu.

Selama ini kau hanya berusaha mencintaiku, berusaha membahagiakan aku, berusaha menyembunyikan perasaanmu yang sebenarnya.

Kukira kau sesayang itu, tapi nyatanya sedikitpun tak ada rasa itu yang sampai. Aku buta, perasaanku yang terlalu besar untukmu telah menutupi semua perasaan yang masih kau coba bukakan untukku. Hatimu tak pernah mampu kumiliki seutuhnya. bersamaku kau masih setengah hati.

Matamu berbinar setiap kali menyebutkan bagaimana rupa gadis yang kau idamkan, seakan suatu hari nanti kau mampu menemukannya. Rasanya menyakitkan karna perempuan itu bukanlah aku.

Aku sadar. Aku tak pernah kau inginkan. Tak pernah ada dalam daftar perempuan yang kau mimpikan bisa hidup satu rumah denganmu.

Terpikir olehku selama ini mungkin saja kau selalu mengutuk dirimu mengapa bisa seceroboh itu jatuh ke genggamanku. Mengapa bisa terpikat pada seseorang yang tak ada apa-apanya, bahkan jauh dari seseorang yang selalu kau bayangkan.

Selama ini aku yang beruntung memilikimu, sedangkan kau tidak. Hal itu kutau saat kau menceritakan perempuan lain ketika sedang bersamaku. Kau begitu membanggakannya, memujinya hingga kau lupa siapa perempuan yang ada di hadapanmu saat itu. Dan seperti yang kukatakan di awal, aku buta. Aku tak menyadari semua itu sebab perasaanku yang terlalu dalam dan kepura-puraanmu yang tak pernah kusangka.

Hari itu aku gagal menceritakanmu hingga tuntas. Mungkin cerita kitalah yang harus segera kutuntaskan. Temanku benar-benar berhasil mematahkan hatiku saat itu, namun ia berhasil membuka jalan keluar atas semua perubahan sikapmu yang tak kusadari apa maksudnya.

Meski aku takut, walau aku masih ragu. Aku tak harus memaksakan perasaanmu. Mencintaimu saja mungkin cukup tanpa mendesakmu untuk membalas perasaan yang sama.

Satu-satunya cara membahagiakanmu mungkin dengan melepaskanmu dan membiarkanmu pergi bersama dengan perempuan yang kau inginkan.

Aku tak tau sepedih apa perasaanku nanti melihat perempuan itu menempati ruang di hatimu tanpa berjuang sedikitpun sebab memang kau menginginkannya tanpa ia melakukan apa-apa. Ia ada untukmu saja kau sudah bahagia.

Semoga kau menemukannya, semoga ia bersedia menjadi seseorang yang kau cinta dan mencintaimu. Mencintai pada akhirnya memang bukan tentang memiliki, teruntuk mencintaimu. Kau berhak bersama seseorang yang kau cinta, dan aku tak punya hak untuk memaksa agar perempuan itu aku.

Temukan dia, lalu berbahagialah. Doaku selalu menemani langkahmu. Namun jika hatimu patah karenanya, aku ada.
Salam untuk perempuan yang beruntung mendapatkan utuh hatimu itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Kecil untuk Tuhan

Tuhan... Anak lelaki di hadapanku ini tersenyum dalam tidurnya, bahkan saat dunianya sedang hancur-hancurnya. Bagaimana bisa kau ciptakan hati yang terlihat kuat tapi nyatanya sangat rapuh itu, pada seorang anak lelaki yang seharusnya tertawa di luar sana dan merasa lelah karena terlalu banyak menghabiskan waktu namun nyatanya hanya menatap dirinya sendiri di ruang hampa tanpa siapapun di sampingnya. Berbicara pada diri sendiri, menyalahkan diri sendiri dan berandai-andai agar hidupnya seperti anak lelaki yang lain.  Tuhan... Tidakkah kau lihat hamba kecil-Mu itu sudah lelah? Ia tampak ingin menyerah meski yang orang lain lihat hanyalah kesombongan dalam dirinya. Padahal dia yang sesungguhnya terlihat di sorot matanya, kosong dan gelap.  Tuhan... Jika kedua tangan kekar itu tak cukup untuk bisa Engkau kabulkan doanya, akan kuberikan dengan sangat rela kedua tangan kecilku ini untuk mengaminkan seluruh harap atas keputusasaannya. Apakah masih kurang cukup bagi-Mu untuk membukak...

Tentang Waktu, Kawan dan Kepergian.

Aku pernah memiliki segalanya dan merasa bangga. Hingga waktu mengambil semua dan yang tersisa hanya kekecewaan. Mereka pernah beramai-ramai hadir dalam hidupku, sampai tiba saatnya mereka pergi begitu saja. Tanpa pesan, atau bahkan kalimat singkat saja pun tak ada. Dan yang tersisa cuma; kesendirian. Hampa yang kurasa saat mereka memilih berlalu. Sepi, kosong dan sendiri ketika mereka memilih untuk tiada. Ingin berteriak, ingin memaki, tapi aku juga tak tahu harus kepada siapa dan harus menyalahkan siapa. Pernah ada saat aku butuh sekali lengan-lengan untuk menarikku bangkit dari keterpurukan, namun tak ada yang bersedia. Jika boleh marah, jika boleh mengingat-ingat lagi. Aku tak pernah tega membiarkan siapapun di sampingku merasa sedih, terpuruk dan merasa buruk ketika dunia menjatuhkan mereka. Namun saat aku yang jatuh tersuruk, mereka malah berjalan semakin menjauhi. Mereka ada, tapi memilih untuk tak ingin ada di saat aku sedang kacau-kacaunya. Sedang di saat duniaku bai...

Aku Tidak Pernah Baik-Baik Saja

Aku tidak pernah baik-baik saja, kecuali ketika bertemu dengan keluarga dan beberapa orang yang memang sangat ingin kutemui. Belakangan ini, sejak tahun lalu, aku mengalami demotivasi. Aku malas melakukan rutinitas seperti biasa kecuali yang sifatnya memang harus kulakukan. Bahkan, untuk makan saja sangat berat rasanya.  Aku menghabiskan uangku untuk hal yang ga berguna bukan karna aku boros, tapi karna untuk saat itu, benda itu akan membuat moodku menjadi lebih baik.  Aku mendahulukan kebahagiaan orang lain, bukan karna aku bodoh tak memikirkan diriku sendiri. tapi aku juga tidak tau apa yang bisa membuatku bahagia.  Aku membeli makanan mahal bukan karna aku sombong karna punya banyak uang. Tapi tak ada hal lain yang ingin aku makan kecuali makanan yang benar-benar ingin aku makan.  Aku tertawa di depan semua orang, membercandakan hal-hal yang tidak perlu, berbicara terus-menerus seolah-olah aku adalah orang paling ceria. Tapi, kenyataan yang orang lain tidak tau ad...