Ada kalanya aku sangat membenci waktu, jarak, kemudian membenci diriku sendiri. Tak ada yang salah, tak ada yang berbeda dari laju waktu. Segalanya masih sama, terasa lebih cepat ketika kita bahagia dan terasa lambat saat sedang sedih-sedihnya. Aku merasa tak lagi punya banyak waktu. Waktu terus berjalan, namun langkah kita seolah berhenti pada satu pijakan. Aku merasa terkurung dalam satu ruang, sedangkan kau berkeliaran kesana-kemari mencari sebuah ruang. Kita tak bertemu, kita berjarak, kita kesepian.
"Semua ini bagian dari perjalanan hidup.", katamu.
Bagaimana semua ini bisa disebut perjalanan kalau aku saja merasa sedang diam di tempat. Aku berlari secepat mungkin hingga kakiku lelah, tapi aku masih di sini. Dengan sesak di dada yang terasa menyekik jantung, aku menyadari tak ada yang berubah, tak ada yang akan berubah. Tak bisa kemana-mana dan akan terus ada di sini, tanpamu.
Aku mencoba untuk tetap terlihat tidak ada hal menyedihkan terjadi. Mendengarkan cerita-cerita sedih yang membuatku sadar bahwa aku bukanlah satu-satunya yang tidak beruntung dalam hidup ini. Berusaha menyombongkan diri dengan semua pencapaian yang telah kuraih. Padahal semua itu rasanya tak ada gunanya jika waktu tak memberiku kesempatan untuk bersamamu. Apa yang bisa dibanggakan dari pencapaian tanpa kebahagiaan?
Aku berusaha memahami bahwa waktu sedang memberiku pelajaran untuk bisa membiasakan diri. Tapi tak adakah hal lain yang bisa diberikan waktu? Setidaknya aku butuh diberi tempat bersama mereka yang kubutuhkan dan membutuhkanku. Setidaknya waktu memberi kamu untukku sebagai teman melintasi jalan hidup yang sama sekali tak masuk akal bagiku.
Aku terus menunggu kabar baik, tapi yang kudengar hanya kabar buruk.
Aku terus menunggu waktu bertemu denganmu, tapi yang kutemukan hanya ketidakpastian bahwa apakah kita masih bisa saling berhadapan seperti dulu lagi.
Dari ribuan pengendara motor di kotaku, kenapa tidak satupun dari mereka itu kamu. Dari banyaknya orang-orang yang berada di dekatmu, kenapa tidak satupun dari mereka itu aku. Aku benci dengan jarak yang semakin membentang jauh sekali. Seakan aku tak akan pernah bisa meraihmu, memelukmu, menggenggam tanganmu.
Banyak hal tidak menyenangkan terjadi pada kita belakangan ini, dan yang membuatku semakin merasa buruk adalah kita melewatinya bersama namun di tempat yang berbeda. Aku menahan tangisku dan kau mencoba untuk menguatkan dirimu sendiri di sana.
Harus berapa siang dan malam kulalui untuk menemukan kita lagi dalam ruang dan waktu yang sama?
"Semua ini bagian dari perjalanan hidup.", katamu.
Bagaimana semua ini bisa disebut perjalanan kalau aku saja merasa sedang diam di tempat. Aku berlari secepat mungkin hingga kakiku lelah, tapi aku masih di sini. Dengan sesak di dada yang terasa menyekik jantung, aku menyadari tak ada yang berubah, tak ada yang akan berubah. Tak bisa kemana-mana dan akan terus ada di sini, tanpamu.
Aku mencoba untuk tetap terlihat tidak ada hal menyedihkan terjadi. Mendengarkan cerita-cerita sedih yang membuatku sadar bahwa aku bukanlah satu-satunya yang tidak beruntung dalam hidup ini. Berusaha menyombongkan diri dengan semua pencapaian yang telah kuraih. Padahal semua itu rasanya tak ada gunanya jika waktu tak memberiku kesempatan untuk bersamamu. Apa yang bisa dibanggakan dari pencapaian tanpa kebahagiaan?
Aku berusaha memahami bahwa waktu sedang memberiku pelajaran untuk bisa membiasakan diri. Tapi tak adakah hal lain yang bisa diberikan waktu? Setidaknya aku butuh diberi tempat bersama mereka yang kubutuhkan dan membutuhkanku. Setidaknya waktu memberi kamu untukku sebagai teman melintasi jalan hidup yang sama sekali tak masuk akal bagiku.
Aku terus menunggu kabar baik, tapi yang kudengar hanya kabar buruk.
Aku terus menunggu waktu bertemu denganmu, tapi yang kutemukan hanya ketidakpastian bahwa apakah kita masih bisa saling berhadapan seperti dulu lagi.
Dari ribuan pengendara motor di kotaku, kenapa tidak satupun dari mereka itu kamu. Dari banyaknya orang-orang yang berada di dekatmu, kenapa tidak satupun dari mereka itu aku. Aku benci dengan jarak yang semakin membentang jauh sekali. Seakan aku tak akan pernah bisa meraihmu, memelukmu, menggenggam tanganmu.
Banyak hal tidak menyenangkan terjadi pada kita belakangan ini, dan yang membuatku semakin merasa buruk adalah kita melewatinya bersama namun di tempat yang berbeda. Aku menahan tangisku dan kau mencoba untuk menguatkan dirimu sendiri di sana.
Harus berapa siang dan malam kulalui untuk menemukan kita lagi dalam ruang dan waktu yang sama?
bagus bgt
BalasHapus