Langsung ke konten utama

Ruang Waktu

Ada kalanya aku sangat membenci waktu, jarak, kemudian membenci diriku sendiri. Tak ada yang salah, tak ada yang berbeda dari laju waktu. Segalanya masih sama, terasa lebih cepat ketika kita bahagia dan terasa lambat saat sedang sedih-sedihnya. Aku merasa tak lagi punya banyak waktu. Waktu terus berjalan, namun langkah kita seolah berhenti pada satu pijakan. Aku merasa terkurung dalam satu ruang, sedangkan kau berkeliaran kesana-kemari mencari sebuah ruang. Kita tak bertemu, kita berjarak, kita kesepian.

"Semua ini bagian dari perjalanan hidup.", katamu.

Bagaimana semua ini bisa disebut perjalanan kalau aku saja merasa sedang diam di tempat. Aku berlari secepat mungkin hingga kakiku lelah, tapi aku masih di sini. Dengan sesak di dada yang terasa menyekik jantung, aku menyadari tak ada yang berubah, tak ada yang akan berubah. Tak bisa kemana-mana dan akan terus ada di sini, tanpamu.

Aku mencoba untuk tetap terlihat tidak ada hal menyedihkan terjadi. Mendengarkan cerita-cerita sedih yang membuatku sadar bahwa aku bukanlah satu-satunya yang tidak beruntung dalam hidup ini. Berusaha menyombongkan diri dengan semua pencapaian yang telah kuraih. Padahal semua itu rasanya tak ada gunanya jika waktu tak memberiku kesempatan untuk bersamamu. Apa yang bisa dibanggakan dari pencapaian tanpa kebahagiaan?

Aku berusaha memahami bahwa waktu sedang memberiku pelajaran untuk bisa membiasakan diri. Tapi tak adakah hal lain yang bisa diberikan waktu? Setidaknya aku butuh diberi tempat bersama mereka yang kubutuhkan dan membutuhkanku. Setidaknya waktu memberi kamu untukku sebagai teman melintasi jalan hidup yang sama sekali tak masuk akal bagiku.

Aku terus menunggu kabar baik, tapi yang kudengar hanya kabar buruk.
Aku terus menunggu waktu bertemu denganmu, tapi yang kutemukan hanya ketidakpastian bahwa apakah kita masih bisa saling berhadapan seperti dulu lagi.

Dari ribuan pengendara motor di kotaku, kenapa tidak satupun dari mereka itu kamu. Dari banyaknya orang-orang yang berada di dekatmu, kenapa tidak satupun dari mereka itu aku. Aku benci dengan jarak yang semakin membentang jauh sekali. Seakan aku tak akan pernah bisa meraihmu, memelukmu, menggenggam tanganmu.

Banyak hal tidak menyenangkan terjadi pada kita belakangan ini, dan yang membuatku semakin merasa buruk adalah kita melewatinya bersama namun di tempat yang berbeda. Aku menahan tangisku dan kau mencoba untuk menguatkan dirimu sendiri di sana.

Harus berapa siang dan malam kulalui untuk menemukan kita lagi dalam ruang dan waktu yang sama?

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Kecil untuk Tuhan

Tuhan... Anak lelaki di hadapanku ini tersenyum dalam tidurnya, bahkan saat dunianya sedang hancur-hancurnya. Bagaimana bisa kau ciptakan hati yang terlihat kuat tapi nyatanya sangat rapuh itu, pada seorang anak lelaki yang seharusnya tertawa di luar sana dan merasa lelah karena terlalu banyak menghabiskan waktu namun nyatanya hanya menatap dirinya sendiri di ruang hampa tanpa siapapun di sampingnya. Berbicara pada diri sendiri, menyalahkan diri sendiri dan berandai-andai agar hidupnya seperti anak lelaki yang lain.  Tuhan... Tidakkah kau lihat hamba kecil-Mu itu sudah lelah? Ia tampak ingin menyerah meski yang orang lain lihat hanyalah kesombongan dalam dirinya. Padahal dia yang sesungguhnya terlihat di sorot matanya, kosong dan gelap.  Tuhan... Jika kedua tangan kekar itu tak cukup untuk bisa Engkau kabulkan doanya, akan kuberikan dengan sangat rela kedua tangan kecilku ini untuk mengaminkan seluruh harap atas keputusasaannya. Apakah masih kurang cukup bagi-Mu untuk membukak...

Tentang Waktu, Kawan dan Kepergian.

Aku pernah memiliki segalanya dan merasa bangga. Hingga waktu mengambil semua dan yang tersisa hanya kekecewaan. Mereka pernah beramai-ramai hadir dalam hidupku, sampai tiba saatnya mereka pergi begitu saja. Tanpa pesan, atau bahkan kalimat singkat saja pun tak ada. Dan yang tersisa cuma; kesendirian. Hampa yang kurasa saat mereka memilih berlalu. Sepi, kosong dan sendiri ketika mereka memilih untuk tiada. Ingin berteriak, ingin memaki, tapi aku juga tak tahu harus kepada siapa dan harus menyalahkan siapa. Pernah ada saat aku butuh sekali lengan-lengan untuk menarikku bangkit dari keterpurukan, namun tak ada yang bersedia. Jika boleh marah, jika boleh mengingat-ingat lagi. Aku tak pernah tega membiarkan siapapun di sampingku merasa sedih, terpuruk dan merasa buruk ketika dunia menjatuhkan mereka. Namun saat aku yang jatuh tersuruk, mereka malah berjalan semakin menjauhi. Mereka ada, tapi memilih untuk tak ingin ada di saat aku sedang kacau-kacaunya. Sedang di saat duniaku bai...

Aku Tidak Pernah Baik-Baik Saja

Aku tidak pernah baik-baik saja, kecuali ketika bertemu dengan keluarga dan beberapa orang yang memang sangat ingin kutemui. Belakangan ini, sejak tahun lalu, aku mengalami demotivasi. Aku malas melakukan rutinitas seperti biasa kecuali yang sifatnya memang harus kulakukan. Bahkan, untuk makan saja sangat berat rasanya.  Aku menghabiskan uangku untuk hal yang ga berguna bukan karna aku boros, tapi karna untuk saat itu, benda itu akan membuat moodku menjadi lebih baik.  Aku mendahulukan kebahagiaan orang lain, bukan karna aku bodoh tak memikirkan diriku sendiri. tapi aku juga tidak tau apa yang bisa membuatku bahagia.  Aku membeli makanan mahal bukan karna aku sombong karna punya banyak uang. Tapi tak ada hal lain yang ingin aku makan kecuali makanan yang benar-benar ingin aku makan.  Aku tertawa di depan semua orang, membercandakan hal-hal yang tidak perlu, berbicara terus-menerus seolah-olah aku adalah orang paling ceria. Tapi, kenyataan yang orang lain tidak tau ad...