Selepas hari menyedihkan itu, aku menyesal. Aku menyadari bahwa aku selalu membuat kesalahan di sepanjang kehidupanku, dan ketika aku dipertemukan dengan seseorang yang mampu membantuku memperbaiki semua itu menjadi benar, aku justru menyalahkannya.
Aku telah menemukan satu, yang tetap memilih tinggal meski tau segala kurangku. Dan tetap memilih bertahan meski ada banyak alasan untuk pergi meninggalkan. Tapi keegoisanku membunuh sabar dan usaha bersetia itu.
Sejak hari itu, aku melalui hari-hari yang sulit, tanpanya. Lelahku telah kehilangan tempat ternyaman untuk bersandar. Sedihku tak lagi punya teman bercerita dan pengusap air mata. Dan kacauku kehilangan peluknya, yang dulu selalu mampu menenangkan. Senyumku pedar, tawaku hambar.
Aku terlambat menyadari bahwa dialah satu-satunya yang aku butuh untuk selalu ada di sisi. Satu-satunya yang mampu menguatkan aku dalam kondisi paling rapuh sekalipun. Aku sangat terlambat menyadari bahwa dia memang begitu berarti dalam hidupku.
Jika waktu itu aku tak memilih keputusan yang salah, aku masih memiliki seseorang yang mampu menjadi segalanya itu saat ini. Jika saja aku tak memilih kalah, mungkin peluknya masihlah milikku, pundaknya masihlah tempat terbaik untuk ku sandarkan segala penat.
Seandainya saja aku sadar betapa besar artinya bagiku ketika itu, tak akan pernah ku lepaskan genggamannya.
Kalau saja satu kesempatan lagi masih ada untukku, aku ingin kembali ke waktu di saat aku dan dia masih menjadi 'kami'. Mendekap erat hatinya, dan bersedia menjadi tempat pulang terbaiknya.
Aku benci bila harus mengatakan ini. Tapi, sungguh aku tak benar baik-baik saja setelah kepergiannya. Aku menyesal dan ingin dia kembali. Aku masih mencintainya dengan sangat, meski mungkin kini aku sudah tak lagi ada di ruang terbaik di dalam hatinya.
Komentar
Posting Komentar