Langsung ke konten utama

Yang Tak Mampu Tersampaikan

Selepas hari menyedihkan itu, aku menyesal. Aku menyadari bahwa aku selalu membuat kesalahan di sepanjang kehidupanku, dan ketika aku dipertemukan dengan seseorang yang mampu membantuku memperbaiki semua itu menjadi benar, aku justru menyalahkannya.

Aku telah menemukan satu, yang tetap memilih tinggal meski tau segala kurangku. Dan tetap memilih bertahan meski ada banyak alasan untuk pergi meninggalkan. Tapi keegoisanku membunuh sabar dan usaha bersetia itu.

Sejak hari itu, aku melalui hari-hari yang sulit, tanpanya. Lelahku telah kehilangan tempat ternyaman untuk bersandar. Sedihku tak lagi punya teman bercerita dan pengusap air mata. Dan kacauku kehilangan peluknya, yang dulu selalu mampu menenangkan. Senyumku pedar, tawaku hambar.

Aku terlambat menyadari bahwa dialah satu-satunya yang aku butuh untuk selalu ada di sisi. Satu-satunya yang mampu menguatkan aku dalam kondisi paling rapuh sekalipun. Aku sangat terlambat menyadari bahwa dia memang begitu berarti dalam hidupku.

Jika waktu itu aku tak memilih keputusan yang salah, aku masih memiliki seseorang yang mampu menjadi segalanya itu saat ini. Jika saja aku tak memilih kalah, mungkin peluknya masihlah milikku, pundaknya masihlah tempat terbaik untuk ku sandarkan segala penat.

Seandainya saja aku sadar betapa besar artinya bagiku ketika itu, tak akan pernah ku lepaskan genggamannya.

Kalau saja satu kesempatan lagi masih ada untukku, aku ingin kembali ke waktu di saat aku dan dia masih menjadi 'kami'. Mendekap erat hatinya, dan bersedia menjadi tempat pulang terbaiknya.

Aku benci bila harus mengatakan ini. Tapi, sungguh aku tak benar baik-baik saja setelah kepergiannya. Aku menyesal dan ingin dia kembali. Aku masih mencintainya dengan sangat, meski mungkin kini aku sudah tak lagi ada di ruang terbaik di dalam hatinya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Kecil untuk Tuhan

Tuhan... Anak lelaki di hadapanku ini tersenyum dalam tidurnya, bahkan saat dunianya sedang hancur-hancurnya. Bagaimana bisa kau ciptakan hati yang terlihat kuat tapi nyatanya sangat rapuh itu, pada seorang anak lelaki yang seharusnya tertawa di luar sana dan merasa lelah karena terlalu banyak menghabiskan waktu namun nyatanya hanya menatap dirinya sendiri di ruang hampa tanpa siapapun di sampingnya. Berbicara pada diri sendiri, menyalahkan diri sendiri dan berandai-andai agar hidupnya seperti anak lelaki yang lain.  Tuhan... Tidakkah kau lihat hamba kecil-Mu itu sudah lelah? Ia tampak ingin menyerah meski yang orang lain lihat hanyalah kesombongan dalam dirinya. Padahal dia yang sesungguhnya terlihat di sorot matanya, kosong dan gelap.  Tuhan... Jika kedua tangan kekar itu tak cukup untuk bisa Engkau kabulkan doanya, akan kuberikan dengan sangat rela kedua tangan kecilku ini untuk mengaminkan seluruh harap atas keputusasaannya. Apakah masih kurang cukup bagi-Mu untuk membukak...

Tentang Waktu, Kawan dan Kepergian.

Aku pernah memiliki segalanya dan merasa bangga. Hingga waktu mengambil semua dan yang tersisa hanya kekecewaan. Mereka pernah beramai-ramai hadir dalam hidupku, sampai tiba saatnya mereka pergi begitu saja. Tanpa pesan, atau bahkan kalimat singkat saja pun tak ada. Dan yang tersisa cuma; kesendirian. Hampa yang kurasa saat mereka memilih berlalu. Sepi, kosong dan sendiri ketika mereka memilih untuk tiada. Ingin berteriak, ingin memaki, tapi aku juga tak tahu harus kepada siapa dan harus menyalahkan siapa. Pernah ada saat aku butuh sekali lengan-lengan untuk menarikku bangkit dari keterpurukan, namun tak ada yang bersedia. Jika boleh marah, jika boleh mengingat-ingat lagi. Aku tak pernah tega membiarkan siapapun di sampingku merasa sedih, terpuruk dan merasa buruk ketika dunia menjatuhkan mereka. Namun saat aku yang jatuh tersuruk, mereka malah berjalan semakin menjauhi. Mereka ada, tapi memilih untuk tak ingin ada di saat aku sedang kacau-kacaunya. Sedang di saat duniaku bai...

Aku Tidak Pernah Baik-Baik Saja

Aku tidak pernah baik-baik saja, kecuali ketika bertemu dengan keluarga dan beberapa orang yang memang sangat ingin kutemui. Belakangan ini, sejak tahun lalu, aku mengalami demotivasi. Aku malas melakukan rutinitas seperti biasa kecuali yang sifatnya memang harus kulakukan. Bahkan, untuk makan saja sangat berat rasanya.  Aku menghabiskan uangku untuk hal yang ga berguna bukan karna aku boros, tapi karna untuk saat itu, benda itu akan membuat moodku menjadi lebih baik.  Aku mendahulukan kebahagiaan orang lain, bukan karna aku bodoh tak memikirkan diriku sendiri. tapi aku juga tidak tau apa yang bisa membuatku bahagia.  Aku membeli makanan mahal bukan karna aku sombong karna punya banyak uang. Tapi tak ada hal lain yang ingin aku makan kecuali makanan yang benar-benar ingin aku makan.  Aku tertawa di depan semua orang, membercandakan hal-hal yang tidak perlu, berbicara terus-menerus seolah-olah aku adalah orang paling ceria. Tapi, kenyataan yang orang lain tidak tau ad...