Langsung ke konten utama

Jangan Berpura-pura Lagi !


Untuk perempuan yang sedang dipatahkan hatinya. Aku tahu kalau kau butuh peluk untuk sedih-sedihmu, namun tak ada sepasang lengan yang bersedia untuk itu. Mungkin kau perlu belajar memeluk diri sendiri. Sebab selain si pematah, hanya kau yang mampu memulihkan kepatahan dalam dirimu. Kau tak perlu menunggu siapapun memberikan lengannya untuk menenangkanmu, karena segala resah dan lelahmu cuma bagian dari dirimulah yang memahaminya.

Kau berpura-pura tersenyum di hadapan dunia, lalu menangis di balik bantal tidurmu saat malam datang. Percayalah bahwa tak perlu semenyedihkan itu. Kau harus tersenyum agar luka-lukamu membaik. Kepura-puraan itu justru akan menambah rasa sesak dalam dadamu. Sebuah usaha menipu dunia hanya akan menambah beban dan lelahmu. Hingga akhirnya bukan sembuh yang kau dapat, hanya sebuah kesia-siaan.

Daripada harus terus-menerus hidup dalam kepura-puraan, mungkin kau perlu menyediakan satu hari dimana kau harus menangisi kesedihanmu. Habiskan saja air matamu, berteriak sesukamu, dan membenci dirimu sebenci-bencinya. Hingga besok tak ada lagi yang perlu kau tangisi, tak ada lagi yang harus kau sesali. Sampai tak lagi ada dalam dirimu yang kau maki.

Kau, perempuan kuat, percayalah bahwa kau mampu menyembuhkan luka-lukamu itu sendirian. Dunia ini hanya tentang; sembuh dari patah hati untuk menerima patah-patah yang lain. Jangan tahan sakitmu, jangan membuatnya semakin menumpuk membebani hatimu. Berhenti menyembunyikannya dan mulailah menghadapinya.

Tersenyumlah sampai kau lupa bahwa kesedihan pernah membuat buruk garis lengkung pada bibirmu. Percayalah bahwa senyummu itu mampu meluruskan banyak hal. Tawamu bisa menghapus satu persatu 
rasa sakit yang menghinggapimu.

Teruntuk perempuan yang tak sedang dalam pelukan, teruslah berjalan meski harus melangkah sendirian. Dekap dirimu ketika hatimu merasa sedikit lelah. Aku percaya bahwa kau mampu, aku yakin bahwa kau sekuat itu.

Semoga setelah kau berhasil pulih dengan cara mencintai diri sendiri, kau akan menjadi perempuan hebat dengan cinta dan jiwa yang besar.
Dan... Bahagia.

Komentar

  1. "Dunia ini hanya tentang; sembuh dari patah hati untuk menerima patah-patah yang lain."

    Saya suka sekali dengan bagian ini. Terus menulis, ya. Saya suka tulisan-tulisannya, terutama yang ini. :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Kecil untuk Tuhan

Tuhan... Anak lelaki di hadapanku ini tersenyum dalam tidurnya, bahkan saat dunianya sedang hancur-hancurnya. Bagaimana bisa kau ciptakan hati yang terlihat kuat tapi nyatanya sangat rapuh itu, pada seorang anak lelaki yang seharusnya tertawa di luar sana dan merasa lelah karena terlalu banyak menghabiskan waktu namun nyatanya hanya menatap dirinya sendiri di ruang hampa tanpa siapapun di sampingnya. Berbicara pada diri sendiri, menyalahkan diri sendiri dan berandai-andai agar hidupnya seperti anak lelaki yang lain.  Tuhan... Tidakkah kau lihat hamba kecil-Mu itu sudah lelah? Ia tampak ingin menyerah meski yang orang lain lihat hanyalah kesombongan dalam dirinya. Padahal dia yang sesungguhnya terlihat di sorot matanya, kosong dan gelap.  Tuhan... Jika kedua tangan kekar itu tak cukup untuk bisa Engkau kabulkan doanya, akan kuberikan dengan sangat rela kedua tangan kecilku ini untuk mengaminkan seluruh harap atas keputusasaannya. Apakah masih kurang cukup bagi-Mu untuk membukak...

Tentang Waktu, Kawan dan Kepergian.

Aku pernah memiliki segalanya dan merasa bangga. Hingga waktu mengambil semua dan yang tersisa hanya kekecewaan. Mereka pernah beramai-ramai hadir dalam hidupku, sampai tiba saatnya mereka pergi begitu saja. Tanpa pesan, atau bahkan kalimat singkat saja pun tak ada. Dan yang tersisa cuma; kesendirian. Hampa yang kurasa saat mereka memilih berlalu. Sepi, kosong dan sendiri ketika mereka memilih untuk tiada. Ingin berteriak, ingin memaki, tapi aku juga tak tahu harus kepada siapa dan harus menyalahkan siapa. Pernah ada saat aku butuh sekali lengan-lengan untuk menarikku bangkit dari keterpurukan, namun tak ada yang bersedia. Jika boleh marah, jika boleh mengingat-ingat lagi. Aku tak pernah tega membiarkan siapapun di sampingku merasa sedih, terpuruk dan merasa buruk ketika dunia menjatuhkan mereka. Namun saat aku yang jatuh tersuruk, mereka malah berjalan semakin menjauhi. Mereka ada, tapi memilih untuk tak ingin ada di saat aku sedang kacau-kacaunya. Sedang di saat duniaku bai...

Aku Tidak Pernah Baik-Baik Saja

Aku tidak pernah baik-baik saja, kecuali ketika bertemu dengan keluarga dan beberapa orang yang memang sangat ingin kutemui. Belakangan ini, sejak tahun lalu, aku mengalami demotivasi. Aku malas melakukan rutinitas seperti biasa kecuali yang sifatnya memang harus kulakukan. Bahkan, untuk makan saja sangat berat rasanya.  Aku menghabiskan uangku untuk hal yang ga berguna bukan karna aku boros, tapi karna untuk saat itu, benda itu akan membuat moodku menjadi lebih baik.  Aku mendahulukan kebahagiaan orang lain, bukan karna aku bodoh tak memikirkan diriku sendiri. tapi aku juga tidak tau apa yang bisa membuatku bahagia.  Aku membeli makanan mahal bukan karna aku sombong karna punya banyak uang. Tapi tak ada hal lain yang ingin aku makan kecuali makanan yang benar-benar ingin aku makan.  Aku tertawa di depan semua orang, membercandakan hal-hal yang tidak perlu, berbicara terus-menerus seolah-olah aku adalah orang paling ceria. Tapi, kenyataan yang orang lain tidak tau ad...